Festival Gravitasi Bumi (FGB) Selondo dua yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di bumi perkemahan Selondo masuk Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, selama dua hari mulai kemarin 26-27 Agustus 2017 memberikan warna tersendiri terhadap dunia pariwisata daerah setempat. Apalagi di hari kedua ini, Minggu (27/08), digelar acara paling fenomenal yakni pawai mengarak 200 tumpeng dan panggang ayam start dari kantor desa setempat ke Selondo berjarak sekitar 1 kilometer.

Ratusan tumpeng dan panggang ayam itu sendiri dikawal oleh para seniman dari Sekar Pangawikan Yogyakarta, pasukan Sendiko Dawoh dari Kraton Solo, Pentul Melikan dipimpin langsung Kepala Desa (Kades) Ngrayudan Suwarno. Kemudian diserahkan ke Wakil Bupati (Wabup) Ngawi Ony Anwar yang sudah berada dilokasi terlebih dahulu.

“Festival gravitasi yang kedua ini tujuanya tidak lain menciptakan kesadaran akan kebersihan terhadap lokasi wisata seperti di Selondo dan umumnya kepada khalayak masyarakat yang digagas oleh Pokdarwis. Tentu kita semua berharap kegiatan yang berlangsung cukup meriah dan mempunyai pesan terhadap lingkungan bisa dijadikan agenda tahunan,” terang Suwarno Kades Ngrayudan, Minggu (27/08).

Ditempat yang sama Ony Anwar Wabup Ngawi pihaknya mengapresiasi langkah konstruktif terhadap kepedulian lingkungan dari Pokdarwis Desa Ngrayudan yang dibalut maupun dikemas melalui seni FGB yang kedua. Selain menjadi kegiatan etnik budaya lokal dengan adanya FGB tersebut bisa memberikan dampak positif bagi dunia pariwisata demikian juga berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sekitar lokasi kegiatan.

“Kegiatan FGB yang digelar selama dua hari bisa menjadikan motivasi kita bersama untuk lebih menjaga keanekaragaman hayati disuatu lingkungan. Dan dikemas kedalam bentuk seni seperti yang kita lihat tentu berdampak pada dunia wisata dan perekonomian masyarakat seiring dengan Ngawi Visit Years 2017 kali ini,” jelas Ony Anwar.

Seperti diketahui langsung dari Selondo, ajang FGB 2017 melibatkan ratusan seniman penumpuk batu dari seluruh Indonesia, secara khusus mengundang tampil para seniman seperti Bahana Etnika, Doni Suwung, Sri Krishna, Rindu Dendam, Petrus Niko, Aliem Bachtiar, Bjeh Endarto, Sekar Pengawikan, Dongkrek Madiun. Selain itu hadir juga seni Reog, Penthul Melikan, Sendiko Dawuh, Ketoprak DKD Ngawi, Retno Dumilah, Condro Buwono, Pasukan Semut Kraton Ngiyom, iringan tumpeng desa Ngrayudan, serta grup musik ethnic-jazz Bonita and the Hus Band

 

 Dalam siaran pers sebelumnya bisa diketahui, bahwa FGB sebagai bagian dari pengembangan pariwisata yang dikelola Pokdarwis Desa Ngrayudan berawal dari hobi Yosef Danni Kurniawan yang gemar menumpuk batu dalam posisi-formasi yang tidak mungkin dengan dikenal melalui istilah gravity. Tentunya seni menumpuk batu dibutuhkan kepekaan rasa dalam keseimbangan-gravitasi, Danni menyusun batu sebagai pokok kejadian dalam seni berdampak (happening art with impact).