Di tengah kesibukannya sebagai presiden, Susilo Bambang Yudhoyono masih sempat menulis pikiran-pikirannya dan dituangkan ke dalam sebuah buku. Judulnya Selalu Ada Pilihan. Buku setebal 824 halaman mengenai pengalaman mengelola persoalan negara dan bangsa tersebut diluncurkan sendiri oleh Presiden SBY di Jakarta Convention Center, Jumat (17/1) pukul 20.00 WIB. Menurut sang putra bungsu, Edhie Baskoro Yudhoyono, buku ini bukan otobiografi atau memoar politik melainkan teman setia SBY selama menjabat menjadi presiden.

 

“Meski tebal, bukanlah buku teks yang sarat teori. Buku ini istimewa karena Bapak SBY secara khusus mengalokasikan waktu, pikiran, dan tenaga di tengah kesibukan beliau sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan melalui buku ini. Buku ini menjadi sahabat setia beliau ketika melalui berbagai masalah dan tantangan dalam tugasnya menjadi Presiden,” Ibas menjelaskan.

 

Buku bersampul putih dengan judul berwarna merah tersebut terbagi menjadi empat bab. Menurut Ibas, buku ini memberikan kesempatan kepada publik untuk melihat perspektif kepala negara tentang bagaimana menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan negara dan bangsa selama hampir 10 tahun kepemimpinanya. “Buku karya Bapak SBY ini menghadirkan pandangan khas dan cerita tentang pilihan keputusan dan latar belakang yang mendasarinya. Saran dan pegangan untuk presiden mendatang dalam menggunakan hak politiknya juga terdapat dalam buku ini. Ini ditulisnya juga agar rakyat tahu kebijakan pemerintah dan apa saja yang saya pikirkan dan lakukan untuk rakyat Indonesia,” ujarnya.
Menurut SBY sendiri, buku ini didedikasikan untuk para pecinta demokrasi dan para pemimpin Indonesia mendatang. Di dalamnya terdapat cerita tentang keadaan negera kita, politik dan demokrasi. “Semua saya tulis dengan kapasitas sebagai pelaku sejarah dan pelaku politik dan demokrasi, bukan sebagai ahli politik dan demokrasi,” SBY menyampaikan.

 

Judul Selalu Ada Pilihan dipilih karena SBY ingin menyampaikan pandangannya bahwa hidup adalah pilihan. “Ingin menjadi apa seseorang itu pilihan masing-masing, masa depan seperti apa yang diharapkan olah seseorang itu pilihan sendiri, pendekatan dan cara apa untuk mengatasi masalah itu juga pilihan, sampai siapa yang paling tepat memimpin negeri ini kedepannya itu juga pilihan. Sebenarnya puncak dari kebebasan adalah kebebasan untuk memilih,” Kepala Negara menuturkan.
Sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Ibas juga mengaku selalu mencontoh sosok SBY dalam kepemimpinan baik melalui tindakan maupun catatan-catatannya “Penuturan seorang SBY kepada siapapun yang memiliki cita-cita menjadi pemimpin di negeri ini adalah rasa syukur kepada Allah karena banyak putra-putri bangsa ingin menjadi pemimpin. Sebagai rasa suka citanya itu, Beliau ingin berbagi, bukan mengajari atau menggurui. Berbagi tentang suka duka dan pahit manis menjadi seorang pemimpin di negeri ini, di era transisi demokrasi, juga tentang serba-serbi proses demokrasi, khususnya dua kali mengikuti pemilihan presiden. Hal itu juga yang mendasari saya selama ini untuk belajar menjadi seorang pemimpin yang beramanah,” tutur Ibas.

 

Ibas juga menyampaikan bahwa buku ini turut menyampaikan doa dan harapan kepada para pemimpin Indonesia mendatang dalam sebuah cerita pengalaman 9 tahun memimpin Indonesia. “Saya sangat bersyukur dengan adanya buku ini, tidak hanya kami anak-anaknya, bahkan seluruh masyarakat bangsa Indonesia dapat setidaknya belajar dan menggali makna kepemimpinan dari seorang Presiden SBY baik di masa pasangnya maupun masa surutnya,” Tutup Ibas.