Trenggalek, 27/3 (ANTARA) – Anggota Komisi I DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengapresiasi penjelasan yang disampaikan pihak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI terkait transparansi pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI. “Saya kira ini patut diapresiasi karena transparansi pengadaan alutsista kini jauh lebih baik dari pemerintahan sebelumnya,” kata Ibas dalam siaran pers yang disampaikannya melalui surat elektronik (e-mail) ke koresponden ANTARA di Trenggalek, Selasa.

      

Menurut Ibas, keterbukaan informasi yang ditunjukkan Kemenhan RI tersebut menunjukkan pemerintah saat ini semakin taat prosedur dalam pengadaaan alutsista sebagaimana diatur dalam “High Level Comitee (HLC) dan dengan terus memberikan penjelasan yang detail kepada DPR.

     

Ditambahkannya, penjelasan pihak Kemenhan terkait rincian biaya pengadaan enam unit pesawat tempur jenis Sukhoi SU-30MK2 dari Rusia sangat rinci dan sekaligus mengklarifikasi berbagai tudingan sejumlah pihak yang curiga ada kecurangan dalam pengadaan alutsista di lingkungan Kemenhan.

     

Selain itu, dalam kesempatan yang sama Ibas juga menyampaikan apresiasinya terhadap para wakil rakyat yang ada di Senayan, terutama koleganya di Komisi I DPR RI, serta kalangan LSM yang dinilai menaruh perhatian besar sekaligus mendorong transparansi pengadaan alutsista. “Kritikan oleh sejumlah pihak, baik di DPR maupun LSM merupakan bagian dari perhatian agar ke depan pengadaan alutsista kita dapat dipertanggungjawabkan dengan baik,” ujarnya menanggapi pertemuan Komisi I DPR RI dengan Menteri Pertahanan di Senayan Jakarta, Selasa sore.

 

Ibas berharap, peningkatan kapasitas pertahanan melalui program penyegaran maupun penguatan postur alutsista TNI diharapkan memberi kontribusi positif dalam upaya menguatkan kemampuan pertahanan agar semakin efektif dan efisien. “Kita semua tentu juga berharap agar penguatan postur pertahanan ini ke depannya bisa tepat manfaat, dan terutama mendapat dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

 

Ibas mengingatkan, ke depan perlu dipertimbangkan lagi agar pengadaan alutsista juga menggandeng negara-negara lain yang strategis untuk menjadi mitra. “Hal lain yang perlu diprioritaskan dalam pembelian alutsista adalah kebutuhan di lapangan, kesesuaian dengan ‘blue print’ (cetak biru) Minimum Essential Forces (MEF) TNI dan yang tak kalah penting harus ada transfer teknologi,” tandasnya.