Magetan

Hujan yang turun pada Rabu (4/1) siang, menyebabkan kondisi lapangan di Desa Candirejo, becek. Namun, itu tak menyurutkan ratusan warga Desa Candirejo, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, untuk datang menyaksikan pergelaran wayang kulit yang dipersembahkan anggota DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono.

 

Dua jam sebelum pergelaran dimulai, warga sudah mulai berdatangan. “Saya sangat menggemari wayang kulit, ini hiburan paling merakyat,” kata Saimun, warga setempat.

 

Wayang kulit yang mengambil lakon Gatot Kaca Krama itu dimainkan dalang Ki Kasno Siswo Carito dari Poncol, Magetan. Wayang kulit ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Ruby Aliya Rajasa yang telah melangsungkan akad nikah 24 November lalu.

 

Pagelaran dihadiri Bupati Sumantri, jajaran muspida, anggota DPRD Fraksi Partai Demokrat, muspika serta Pengurus DPC dan PAC Partai Demokrat Magetan.

 

“Semoga Mas Edhie Baskoro Yudhoyono dan Mbak Siti Ruby Aliya Rajasa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah,” kata  Sumantri dalam sambutannya sesaat sebelum pertunjukan wayang kulit dimulai.

 

Pagelaran Gatot Kaca Krama dimulai setelah Bupati menyerahkan gunungan berupa tokoh wayang Gatot Kaca kepada Ki Dalang.

 

Acara wayangan ini juga diselingi lawakan dan campursari yang makin menghangatkan suasana. Bupati dan anggota DPRD dari Fraksi Partai Demokrat Kabupaten, menyumbangkan suaranya. “Mas Edhie Baskoro ini memberikan banyak hal untuk pembangunan Kabupaten Magetan, saya mewakili masyarakat Magetan menyampaikan terima kasih atas persembahan pergelaran ini,” kata Sumantri.

 

Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Siran, acara wayang kulit ini bisa menjadi bagian dari upaya melestarikan seni dan budaya yang digemari masyarakat khususnya di pedesaan. “Acaranya sukses, penonton banyak, selamat. Semoga ini bisa digelar rutin sehingga seni dan budaya kita terus memasyarakat,” jelasnya.

 

Pergelaran wayang kulit yang digelar EBY, tak hanya dipadati pengunjung, namun juga para pedagang keliling. Mulai dari penjual kopi, makanan hingga mainan anak-anak. Sejak siang, mereka sudah menata dagangannya. “Saya dari Plaosan. Jika ada keramaian seperti ini berarti pasar buat kami,” kata Giman, salah satu padagang.

 

Banyaknya pedagang yang berada di sekitar panggung dan terop wayang kulit, membuat suasana lapangan tak ubahnya pasar malam.  Acara wayang ini juga disiarkan secara langsung di dua radio yakni, Radio Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Magetan Indah dan Sanjaya FM.

 

Sekitar pukul 03.30 WIB, Gatotkaca, kesatria yang dikenal dengan julukan otot kawat tulang besi, akhirnya menemukan wanita pujaannya yakni Pregiwa untuk diperistri setelah melalui perjuangan yang berat.

 

Dalang menutup cerita. “Mugi-mugi pasangan Mas Edhie Baskoro Yudhoyono lan Mbak Siti Ruby Aliya langgeng, hingga ajal memisahkan.”

 

Ponorogo

Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur menghadiri dan menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk  dalam rangka tasyakuran pernikahan pasangan Edhie Baskoro Yudhoyono dengan Siti Ruby Aliya Rajasa. Acara digelar di Perempatan Desa Ngumpul, Kecamatan Balong, Ponorogo, Kamis (5/1).

 

Menurut staf ahli Edhie Baskoro, Bonggas Adhie Chandra, tasyakuran dilaksanakan secara bergiliran di lima kabupaten, yaitu Kabupaten Magetan, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek dan Pacitan. “Karena sebagian besar masyarakat di wilayah Dapil VII Jawa Timur tidak bisa menghadiri langsung pernikahan Mas Ibas  Mbak Aliya, maka di setiap kabupaten di Dapil VII Jawa Timur digelar pentas wayang kulit secara gratis semalam suntuk,” ujar Bonggas disela-sela pagelaran wayang kulit.

 

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat di Dapil VII Jawa Timur yang selalu memberi dukungan kepada Pemerintah pro rakyat maupun kepada Edhie Baskoro Yudhoyono yang juga anggota Komisi I DPR RI dan juga sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat. Pihaknya sengaja memilih dalang lokal Ponorogo karena sebagai wujud pemberdayaan seniman asli Ponorogo. “Sekaligus untuk berbagi rejeki kepada para seniman lokal Ponorogo,” jlentrehnya.

 

Sementara itu Bupati Ponorogo, Amin mengucapkan terima kasih kepada Edhie Baskoro Yudhoyono yang menggelar pagelaran wayangkulit gratis bagi masyarakat Ponorogo. “Semoga Mas Ibas dan Mbak Aliya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah hingga akhir hayat nanti,” harap Amin.

 

Dia juga meminta maaf kepada Keluarga Presiden SBY karena saat resepsi pernikahan 26 November 2011 silam Bupati Amin berhalangan hadir karena bersamaan dengan penutupan Festival Reyog Nasional (FRN) dan Grebeg Syuro 2011.

 

Pagelaran wayang kulit mengambil lakon ‘Parto Kromo’ menampilkan dalang Kondang Ponorogo Ki Imam Purbo Sasangko dimeriahkan ‘Mahardika Rock Dhut’ yang juga mendatangkan bintang tamu artis dan pesinden dari Blitar dan Sragen (Jateng).

 

Acara tersebut juga disiarkan langsung oleh 5 radio di Ponorogo, yaitu Radio Mahardika FM (Desa Bekare, Bungkal), Radio Amarta FM (Desa Nambak, Bungkal), Radio Sakti FM (Desa Poko, Jambon), Garda FM (Desa Siwalan, Mlarak) serta RBM FM (Kelurahan Kadipaten, Babadan).

 

Sementara itu Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Ponorogo, Drs. H. Marjuki mengaku bersyukur dengan pagelaran wayang kulit tersebut. “Ini menunjukkan kedekatan Mas Ibas dengan masyarakat Ponorogo,” puji Drs. H. Marjuki.

 

Ungkapan pujian disampaikan beberapa masyarakat Ponorogo yang malam itu kebetulan hadir ke lokasi pagelaran wayang kulit. Seperti diungkapkan Juarno, warga Desa Ngraket, Kecamatan Balong yang mengaku bersyukur karena mendapat hiburan gratis. “Ini menunjukkan kepedulian wakil rakyat dengan konstituennya,” ujar Juarno.

 

Senada dengan Juarno, Nuryasin, warga Desa Karanglo Kidul, Kecamatan Jambon juga merasa terharu dengan hiburan dari Mas Ibas.”Semoga kebersamaan yang baik ini bias dipertahankan di masa yang akan dating,” kata Nuryasin.

 

Sementara itu Nurjubaidah, seorang pemilik warung kopi asal Desa Lembah, Kecamatan Babadan yang kebetulan berjualan di lokasi pagelaran wayang kulit mengaku bangga dengan hiburan tersebut. “Pengunjungnya ramai sehingga menambah pendapatan kami,” tutur Nurjubaidah didampingi ayahnya.

 

Acara dihadiri oleh Muspida Ponorogo, Seluruh Jajaran SKPD, Muspika Balong, Kepala Desa se-Kecamatan Balong, Ketua/Sekretaris DPC Partai Demokrat beserta jajaran pengurus harian, para Ketua DPAC Partai Demokrat se-Kabupaten Ponorogo serta Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Ponorogo dan Masyarakat dari segala penjuru Bumi Reyog.

 

Pacitan

Masyarakat Pacitan yang hobi menyaksikan pentas kesenian tradisional wayang kulit, kembali disuguhi penampilan dalang Ki Fajar Ariyanto dari Surakarta. Pentas wayang kulit semalam suntuk di halaman Kecamatan Punung, Jumat (6/1), ini merupakan pesta rakyat dalam rangka tasyakuran pernikahan anggota DPR RI asal daerah pemilihan Jawa Timur VII yang meliputi Pacitan, Trenggalek, Magetan, Ngawi, dan Ponorogo, Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Ruby Aliya Rajasa. Ratusan warga dari Kecamatan Punung dan sekitarnya sangat antusias melihat pagelaran wayang hingga selesai.

 

Ki Fajar Ariyanto menampilkan lakon Wisanggeni Kromo. Lakon yang memiliki filosofi tinggi ini, yakni lahirnya tokoh muda yang berkarakter, pantas dicontoh oleh generasi muda negeri ini. Sebab, Wisanggeni adalah sosok tegas, kritis, dan cerdas, serta siap membela bangsa dan negara.

 

Menurut staf ahli Edhie Baskoro Yudhoyono, Bonggas Adhi Chandra, pesta rakyat berupa pergelaran wayang kulit ini adalah wujud dari komitmen Ibas, begitu Edhie Baskoro biasa disapa, melestarikan kesenian tradisional wayang kulit. “Mas Ibas sangat peduli terhadap pelestarian budaya tradisional wayang kulit,” terang Bonggas dalam kata sambutannya sebelum pagelaran dimulai.

 

Dikisahkan, Bambang Wisanggeni adalah putra Arjuna, salah satu dari lima ksatria Pandawa, dengan Dewi Dresanala, putri Bathara Brahma dari permaisuri Dewi Sarasyati. Wisanggeni digambarkan sebagai sosok yang pemberani, tegas dalam bersikap, dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Bahkan kesaktiannya melebihi kesaktian anak para Pandawa yang lain seperti Antareja, Gatot Kaca maupun Abimanyu. Dalam berbicara, Wisanggeni tidak pernah menggunakan bahasa krama kepada siapapun kecuali dengan Sanghyang Wenang.

 

Wisanggeni diasuh dan dibesarkan oleh Batara Baruna (dewa penguasa lautan) dan Hyang Antaboga, yang menjadikan Wisanggeni memiliki kesaktian yang luar biasa. Dalam cerita pewayangan, Wisanggeni dikisahkan bisa terbang seperti Gatot Kaca dan ambles bumi seperti Antareja, dan hidup di laut seperti Antasena.

 

Wisanggeni menikah dengan Dewi Mustikawati, putri Prabu Mustikadarma, raja negara Sonyapura. Menjelang meletusnya perang di Kurukhsetra (Baratayuda), Wisanggeni bersama Antasena naik ke kahyangan alang-alang kumitir untuk meminta restu kepada Sanghyang Wenang. Namun Sanghyang Wenang justru meramalkan, bahwa Pandawa akan kalah apabila Wisanggeni dan Antasena ikut dalam pertempuran tersebut. Akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan tidak kembali ke perkemahan Pandawa dan rela menjadi tumbal demi kemenangan para Pandawa. Mereka berdua mengheningkan cipta, dan kemudian mereka mencapai moksa, musnah bersama jasadnya.

 

Ngawi

Kegiatan Ibas dalam masa reses sidang DPR RI dimanfaatkan Ibas untuk menyapa konstituen melalui jalur seni budaya, berupa pagelaran wayang kulit. Dari sini Ibas berharap masyarakat terus menjaga nila-nilai budaya dan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu.

 

Adapun kegiatan pagelaran wayang kulit di Ngawi berlangsung di lapangan Desa Karangjati, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi. Dalam pagelaran wayang kulit ini mengambil lakon “Satriyo Utomo”, yang dibawakan oleh seniman lokal asal Ngawi, Ki Dalang Rahmad Santoso, dari Mantingan.

 

Alur cerita dalam pagelaran wayang kali ini menceritakan bahwa setiap kader penerus termasuk pemuda agar sungguh-sungguh, giat memahami tentang nilai-nilai kepemimpinan di masyarakat. setiap kepemimpinan bertumpu pada persoalan yang berkembang di masyarakat. sehingga tantangan bagi setiap pemimpin adalah bagaimana dapat merumuskan kebijakan yang dapat mengangkat masyarakat dari ketertinggalan.

 

Namun dalam dinamika kepemimpinan ini tidak jarang menjumpai berbagai reaksi negatif dari sebagian orang karena faktor kepentingan yang tanpa melihat persoalan di masyarakat. sehingga dalam lakon wayang ini dikisahkan sekelompok kurawa yang ada di tengah-tengah masyarakat tidak henti-hentinya untuk terus mengganggu kinerja pemimpin hanya karena kepentingan sesaat dan kelompoknya.

 

Abimanyu yang disimbolkan sebagai pemimpin dari kelompok pandawa hanya fokus melihat ke depan untuk bekerja keras, memperbaiki nasib rakyatnya. tanpa harus terjebak ikut meladeni berbagai strategi jahat yang terus di buat oleh kelompok kurawa. Bagi kaum pandawa esensi kepemimpinan adalah bersungguh-sungguh bekerja keras untuk terus mengupayakan perbaikan kesejahteraan bagi rakyatnya. 

 

Kegiatan pagelaran wayang kulit ini juga bersamaan dengan perayaan tahun baru, sehingga kegiatan ini mengandung pesan dalam suasana modernisasi sekalipun masyarakat harus terus menjaga tentang identitas serta nilai-nilai tradisi.

Adapun penunjukan dalang lokal asal Ngawi ini sebagai sedikit upaya Ibas ikut mendorong dan memberikan motivasi pada seniman lokal untuk terus berkarya, mempertahankan nilai tradisi dan budaya.