Ngawi-Keberadaan pasar tradisional yang selama ini dikesankan kumuh dan semrawut kini mulai terpupus. Suasana pasar yang bersih dan tak kalah dengan pasar-pasar dengan sentuhan modern bisa kita temui  di Pasar desa Pojok, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi.

Kondisi inilah yang menghantarkan pasar Pokok menyabet juara I pasar tradisional terbaik 2013 tingkat Jawa Timur. Pasar tradisional ini menyingkirkan pesaingnya, dari Banyuwangi, Lamongan dan Blitar.

Menurut Bupati Ngawi, Ir Budi Sulistyono, hal ini tidak lepas dari makin tumbuhnya kesadaran di kalangan pedagang pasar seputar kebersihan melalui pembinaan berkelanjutan yang dilakukan pemkab.

“Kebersihan pasar menjadi modal utama bertahan dari gempuran pasar modern, selain manajemennya yang bagus,” terang Budi Sulistyono.

Menurut Kanang, sapaan akrab Budi Sulistyono, aspek kebersihan menjadi harga mati jika pasar tradisional ingin tetap eksis.

“Biasanya pedagang membawa tas kresek untuk membersihkan sampah sisa dagangannya, dan dikumpulkan di tong sampah terdekat, sehingga dipastikan tidak ada satu pun sampah yang tercecer,” ungkap bupati yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Ngawi tersebut.

Tak hanya tempat sampah organik dan anorganik, menurut Kanang, di setiap sudut pasar dilengkapi fasilitas cuci tangan plus sabun. Sarana prasarana lainnya seperti kamar mandi pun selalu bersih.

Tidak hanya itu, ada juga fasilitas penunjang seperti Pos ASI, dan alat pemadam ringan. “Dengan semua fasilitas itu dipastikan pengunjung akan merasa nyaman belanja di pasar tradisional, karena tak ada kesan kumuh dan bau,” ujarnya.

Di sisi lain, kelengkapan barang dagangan, dan los yang tertata rapi dengan biaya sewa murah membuat perekonomian pasar di perbatasan Ngawi-Magetan itu kian menggeliat. Terbukti, dari sekitar 300 pedagang yang berjualan, separo lebih berasal dari Desa Pojok.

“Dagangan yang dijual lengkap dan murah, sehingga banyak warga pinggiran Magetan dan Ngawi yang memilih berbelanja di pasar ini,” ungkap Kanang.

Pasar Desa Pojok, tambah dia, akan dijadikan pilot project. Tahun ini, pemkab juga mulai mengembangkan pasar di kawasan perbatasan lainnya, seperti Karangjati, Kendal, dan Mantingan, untuk menstimulus peningkatan dan pemberdayaan perekonomian kelas bawah.

Pemkab, imbuhnya, juga mati-matian melindungi pedagang pasar dengan menerbitkan perda zonasi bagi pasar moderen. Yakni, pasar moderen boleh berdiri dengan jarak minimal satu kilometer dari pasar tradisional.

Sementara itu, menurut ketua tim penilai lomba pasar desa dari Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Propinsi Jatim, “Kriteria yang dinilai dalam lomba pasar desa ini yakni aspek kelemmbagaan, aspek managemen, aspek kerapian penataan dan aspek pengembangan kearah ke depan sesuai potensi yang ada di desa seperti potensi lahan. Lebih lanjut dikatakan, bahwa pasar desa Pojok ini memiliki keistimewaan dalam penilaian, yaitu ada tempat Mikcu (tempat untuk menyusui bagi ibu dan anak batitanya) dan tempat utuk mencuci tangan serta pengelolaan limbah pasar untuk kompos yang tidak ditemukan pada peserta lomba pasar desa di 7 Kabupaten lain”, ujarnya. (Ardian)