PONOROGO – Penyakit demam berdarah mulai membawa korban jiwa. Belum genap tiga bulan,  tiga  nyawa melayang akibat gigitan nyamuk Aides Aeghypty.  Ketiga korban tidak bisa diselamatkan setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Diungkapkan dr. Prety Brilliant selaku Kabid P2P Dinas kesehatan Ponorogo, keempat penderita itu tergolong masih anak-anak. Mereka berasal dari Desa Ngabar (Kecamatan Siman), Kelurahan Banyudono (Kecamatan Ponorogo) dan Kecamatan Sooko.  Nyawanya tidak tertolong karena saat dibawa kerumah sakit kondisinya sudah drop.

Dia tidak menampik angka penderita demam berdarah cukup tinggi dalam tiga bulan ini. Saat ini tercatat sudah lebih dari 140 pendertia demam berdarah di Ponorogo. “Kecenderungan meningkatnya jumlah penderita demam berdarah dipengaruhi oleh cuaca,” ujar dr. Prety Brilliant. Menurutnya, saat ini hujan masih sering turun yang disertai dengan panas.  Pihaknya juga menghimbau agar warga meningkatkan kebersihan lingkungan di tempat tinggalnya. “Upaya lainya adalah dengan melakukan pemberantsasn sarang nyamuk PSN,” kata mantan Kepala Puskesmas Kecamatan Jambon ini.

Lebih lanjut ia menambahkan, waspada demam berdarah harus menjadi perhatian warga masyarakat hingga beberapa bulan kedepan, dikarenakan masih akan timbul genangan-genangan air hujan yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Secara terpisah Humas RSU Aisyah, Drg. Enti Isnarni,membenarkan bahwa di RSU Aisyah ada pasien yang terjangkit demam berdarah.  Menurut Drg. Enti Isnarni  meningkatnya penderita Demam Berdarah  atau DBD di Ponorogo disebabkan adanya mutasi virus yang tidak biasa.  Perubahan virus ini mengakibatkan masyarakat tidak mewaspadai gejala awal DBD. Adanya perubahan dengue ini, menurut Enti, akibat adanya perubahan musim yang cepat dan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Banyaknya penderita demam berdarah diduga akibat tidak bersihnya lingkungan tempat tinggal mereka. Apalagi diawal tahun ini musim penghujan,Banyak genangan air di mana-mana. “Musim hujan ini juga sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk aides aigepty. Kemudian kita tahu pola dari nyamuk penyebab virus demam berdarah sendiri di air bersih jadi kita mungkin untuk masyarakat juga harus paham,” tambahnya.

Sementara itu Iseno, warga Dukuh Bantaran, Desa Madusari, Kecamatan Siman berharap Pemkab Ponorogo melakukan fongging atau pengasapan. “Ini sangat diperlukan, karena beberapa hari lalu, Ikrom umur 25 tahun, tetangga kami meninggal karena Demam Berdarah, maka perlu sekali  dilakukan fogging,” pinta Iseno. Dia juga memaparkan Riki8 (14 th), warga Desa Madusari juga dirawat di RSUD karena terkena Demam Berdarah. (Muh Nurcholis)