Ngawi­- Banjir yang menenggelamkan 42 desa dari 12 kecamatan di wilayah Ngawi pada hari kedua saat ini terpantau mulai surut, rabu(10/4). Namun demikian hingga kini masih menyisakan beberapa titik yang masih tergenang luapan Sungai Madiun dengan ketinggian air antara 30 cm sampai 50 cm. Seperti di Kecamatan Kwadungan, Pangkur, Ngawi Kota dan Geneng. 

Dari pantauan Edhiebaskoro.com sejumlah pihak mulai menyalurkan bantuan kemanusiaan, berupa sembako hingga makanan siap saji. 

Seperti halnya yang dilakukan Sekjen Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono yang menyalurkan 179 paket terdiri selimut, mie instant, dan susu kaleng di Kecamatan Kwadungan.Hal serupa juga dilakukan BPBD Ngawi yang mendistribusikan sedikitnya 76 paket kardus sembako.

Setiyono, Camat Kwadungan saat mewakili penerimaan bantuan kemanusiaan korban banjir mengakui berterima kasih atas kepedulian semua pihak. “Alhamdulilah upaya bantuan bagi korban banjir sudah terdistribusikan,” terang Setiyono.

Selain itu pihaknya menjelaskan akibat dampak banjir yang terjadi dalam dua hari terakhir di wilayah Kecamatan Kwadungan tercatat ada 2.145 rumah tergenang air, menyebar di 10 desa dari 14 desa yang ada. Setiyono menambahkan, untuk sementara luas lahan pertanian yang mengalami kerusakan akibat banjir sesuai data PPL dari Dinas Pertanian Ngawi tercatat 1.351 hektar. “Lahan tersebut mayoritas merupakan areal pertanian berupa sawah yang ada tanaman padinya baru berumur sekitar dua minggu,” urainya.

Sementara BPBD Ngawi telah menerjunkan 7 perahu karet yang akan disiagakan secara terus menerus di lokasi 4 wilayah kecamatan. “Perahu karet ini akan bisa digunakan sewaktu waktu bila banjir datang lagi dan untuk dua perahu karet sengaja kita tempatkan di Kecamatan Karanganyar,” kata Eko Heru Tjahjono, Kepala BPBD Ngawi.

Terang Heru, untuk 2 kecamatan diwilayah Ngawi barat seperti Karanganyar dan Mantingan merupakan kawasan yang sulit dijangkau oleh personelnya. 

“Wilayah Karanganyar dan Mantingan ini terkadang memang sulit saat kita melakukan upaya evakuasi korban banjir karena lihat sendiri medannya ada di pinggiran hutan,” beber Heru.

Ditambahkanya, hingga kini personelnya terus memantau ketinggian debit air di pos pantau Ngunengan dan Dungus. “Kita terus memantau tinggi muka air (TMA) di kedua titik ini sehingga apabila ada perubahan yakni ada peningkatan debit airnya maka kita perintahkan bagi warga di pinggiran Bengawan Solo dan Sungai Madiun untuk ekstra waspada,” pungkas Heru. Ardian