PONOROGO – Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo mendeportasi warga negara asing (WNA), asal Pakistan, Senin (28/3). Muhammad Imran (28), warga negara Pakistan yang selama ini tinggal di Jalan Parikesit, Ponorogo, terpaksa ditangkap petugas dari Imigrasi Ponorogo. Hal tersebut dilakukan karena yang bersangkutan dianggap telah melakukan pelanggaran keimigrasian, yakni izin tinggalnya melebihi batas waktu atau over stay.
 
     Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo, Najarudin Syafaat menerangkan bahwa pihaknya mengamankan Muhammad Imran setelah mendapatkan informasi dari masyarakat. Kemudian setelah mendapatkan data WNA tersebut, langsung dibuatkan surat perintah penangkapan. “Berdasarkan informasi masyarakat, dan hasil pengawasan, serta pengintaian tim Wasdakim dari Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo sejak awal Maret kemarin, petugas kami menemukan dan mengamankan seorang WNA yang bernama Muhammad Imran asal negara Pakistan,” terang Najarudin.
   
     Lebih lanjut, Ia menjelaskan yang bersangkutan diketahui telah menikah resmi dengan WNI asal Ponorogo, yakni Nadya Asharoh Windarti (36), warga Jalan Parikesit, Ponorogo. Dihadapan petugas Imigrasi, Imran mengakui kesalahan yang dilakukannya.
 
     Dirinya datang di Indonesia pada tanggal 5 Maret 2015, dengan menggunakan visa kunjungan. Kemudian sempat melakukan perpanjangan izin tinggal sampai tanggal 2 Juni 2015. “Setelah masa perpanjangan izin tinggal itu, yang bersangkutan tidak lagi mengurus izin tinggal di Indonesia.
izin perpanjang 1x. 2 juni 2015. Jika dihitung sampai saat ini Imran melakukan pelanggaran melebihi batas waktu tinggal sekitar 9 bulan,” tambahnya.
 
     Dari hasil pemeriksaan, yang bersangkutan selama berada di Indonesia tidak di temukan indikasi aktifitas yang sifatnya bekerja ataupun aktifitas yang terlarang. Jadi murni mengikuti keluarganya yang berkunjung ke Ponorogo. Saat ini WNA asal Pakistan tersebut diamankan di Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo, guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
 
     “Yang bersangkutan telah melanggar Pasal 78 Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, oleh karenanya akan dilakukan sanksi berupa deportasi ke negara asalnya yakni Pakistan,” pungkas Najarudin Syafaat. Usai menjalani serangkaian pemeriksaan, rencana tanggal 29 Maret 2016 langsung mendeportasi Muhammad Imran ke negara asalnya. (MUH NURCHOLIS)