PONOROGO  – Hingga Minggu (1/5) ratusan warga Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo masih berada di tempat pengungsian. Hal tersebut dikarenakan Pemkab Ponorogo melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memutuskan untuk memperpanjang status siaga bencana di desa tersebut.

 

     Berdasarkan penjelasan dari Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo Hery Sulistyono memaparkan jika perpanjangan status siaga dilakukan karena data dari BMKG Juanda diperkirakan meleset. Menurut BMKG Juanda, hujan diprediksi bakal berhenti mengguyur pada 30 April. Namun hingga Sabtu (30/4) masih belum ada tanda hujan bakal berhenti. 

 

     Lebih lanjut Hery menjelaskan jika wilayah Ponorogo cenderung berbeda dengan beberapa daerah lain di Jatim. Terutama, wilayah tapal kuda. Di wilayah tersebut, saat ini bahkan sudah mulai musim kemarau. Bahkan sudah mulai muncul beberapa titik kekeringan. Hery menjelaskan, status siaga diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan. Status siaga tidak akan dicabut sampai hujan benar-benar selesai mengguyur Talun.

 

     Sebab, prinsip bencana longsor yang ada di Talun sangat bergantung dengan hujan. Jika belum benar-benar masuk musim kemarau, BPBD pun belum berani menyatakan Talun aman. ‘’Masih akan terus rawan jika hujan masih terus mengguyur,’’ sebutnya. Selain itu, sensor early warning system (EWS) yang ada di desa tersebut juga terus berbunyi. Meski cenderung naik turun dan tidak terlalu signifikan, namun bagi Hery itu sudah cukup menunjukkan ada pergerakan tanah di titik utama longsoran di bukit Banyon, timur permukiman Talun. Dan adanya pergerakan longsoran artinya sewaktu-waktu masih bisa mengancam permukiman di desa,’’ terangnya. (mnc)