PONOROGO – Sebanyak 4 Desa di Kabupaten Ponorogo hingga Senin Pagi (8/4) masih terendam air bah. Keempat Desa tersebut adalah Desa Mojopitu (Kecamatan Slahung), Desa Karangan, Bajang dan Ngampel (Kecamatan Balong). Akibat bencana tersebut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, memberlakukan status siaga bencana.

 

Kasi Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Setyo Budiono, memaparkan  seluruh personel yang tergabung dalam tim reaksi cepat (TRC) telah diimbau untuk bersiaga penuh memantau perkembangan alam di wilayah masing-masing.

 

TRC juga diminta untuk terus berkoordinasi dengan jajaran perangkat kecamatan, desa, koramil dan polsek untuk mengantisipasi bencana susulan serta jatuhnya korban jiwa maupun harta benda. “Kami sudah berkoordinasi dengan jajaran TNI, Polri maupun masyarakat umum untuk mengantisipasi bencana susulan, terutama banjir dan tanah longsor,” ucapnya.

 

Sebelumnya salah satu rumah dan satu mobil di Desa Wagir Kidul, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, tertimbun longsor di tengah hujan hujan deras yang mengguyur wilayah itu, Sabtu (6/4).

 

Rumah dan mobil yang tertimbun longsor akibat runtuhnya tebing setinggi 16 meter itu adalah milik warga bernama Senun. Peristiwa tersebut sempat membuat panik pemilik rumah dan warga sekitar, karena di dalam rumah ada dua bayi kembar yang baru berumur lima hari.

 

Akibat runtuhnya tebing, bagian samping rumah Senun hancur dan mobil miliknya tertimbun tanah. Peristiwa terjadi ketika hujan selama dua jam mengguyur wilayah tersebut. Tiba-tiba keluarga Senun mendengar suara gemuruh dari samping rumah mereka.

 

Beberapa saat kemudian tebing runtuh dan langsung menimpa dinding rumah yang yang saat itu dihuni 10 orang, termasuk dua bayi cucu Senun. Seletika seluruh penghuni rumah panik dan berusaha menyelamatkan diri. Mereka juga menyelamatkan dua bayi yang saat itu berada dalam kamar yang didingnya tertimpa longsor. Selanjutnya keluarga itu mengungsi ke rumah kerabat yang jauh dari lokasi tersebut.

 

Longsor juga sempat memutus jalur penghubung antardesa karena material longsor berupa tanah bercampur air memenuhi badan jalan. Warga dibantu anggota TNI lalu bergotong-royong membersihkan tanah dari badan jalan.(Muh. Nurcholis)