Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono berkisah pengalamannya sejak kecil hingga menjadi seorang pemimpin negara. Kisah itu disampaikannya pada acara “Supermentor”, di Jakarta, Minggu (17/5/2015).
Mengawali ceritanya, SBY mempertontonkan kepada hadirin video klip lagu ciptaannya yang berjudul “Ku Yakin Sampai di Sana”. Lagu yang dinyanyikan Rio Febrian ini bercerita mengenai salah satu prinsip hidup SBY yang optimistis dan selalu yakin bisa mencapai tujuannya.
“Ada seribu jalan menuju Roma, banyak pilihan hidup, banyak jalan menuju sukses, jangan contoh dan ikuti prinsip jejak hidup saya jika tidak cocok dengan hati dan pikiran Anda. Jika tidak yakin dan tidak percaya, ingat, ada seribu jalan menuju Roma. Jalan yang saya tempuh belum tentu cocok dengan jalan yang Anda pilih, tetapi saya hanya ingin berbagi,” tutur dia.
SBY dibesarkan di Pacitan, salah satu kabupaten di Jawa Timur. Menurut SBY, kehidupan keluarganya sederhana. Perjalanan hidupnya terbagi dalam penggalan-penggalan fase tertentu.
Pada 20 tahun pertama, SBY tinggal di Pacitan. Kemudian, pada 30 tahun setelahnya, SBY mengabdikan diri pada dunia militer. Setelah pensiun, ia memasuki dunia politik dengan menjadi menteri selama lima tahun. Kemudian, selama 10 tahun, SBY menjabat sebagai Presiden keenam RI.



SBY bercerita bahwa ia mengawali karier di dunia militer karena ada darah militer yang mengalir pada dirinya. Sejak remaja, SBY bercita-cita menjadi seorang jenderal.
“Saya ingin jadi jenderal dulu, bintang satu pun tak masalah, itu mimpi saya,” ucap dia.
Untuk mewujudkan mimpinya ini, SBY memulainya dengan menjadi taruna akademi militer. Sebelumnya, SBY sempat masuk Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Namun, ia keluar lagi dari ITS karena merasa bukan cita-citanya untuk berkuliah di sana.
“Di samping biayanya juga mahal, hingga saya menjadi taruna akmil,” sambung SBY.
Hingga akhirnya, mimpinya pun tercapai. Ketua Umum Partai Demokrat ini menutup karier di dunia militer dengan pangkat jenderal. Menurut SBY, tidak mudah memperoleh pangkat jenderal. Diperlukan keberanian dan kerja keras untuk bisa mengubah nasib.
“Contoh pengalaman saya di dunia militer, tidak mungkin tiba-tiba menjadi jenderal. Pasti letnal, kolonel, mayor, terlebih dahulu. Saya pernah bertempur di Timor Timur, bertempur selama lima tahun. Saya juga pernah ke Bosnia, artinya perjalanan karier saya di militer tidak mudah,” kata SBY.
Ia mengingatkan bahwa tidak ada yang mudah untuk mencapai suatu keberhasilan. Demikian juga dalam berkarier di bidang politik.
“Saya kira tidak mudah memenangkan pemilu, tapi saya yakin ada jalan, ku yakin sampai di sana,” kata dia.
Sebagai mantan presiden yang menjabat selama dua periode, SBY mengatakan, memimpin negara bukan pekerjaan mudah, apalagi menjadi presiden pada era keterbukaan informasi. Kendati demikian, SBY mengklaim ada keberhasilan yang dicapainya selama memimpin.
“Kita bersyukur Indonesia masuk G-20, demokrasi Indonesia menjadi nomor tiga di dunia, itu karena kerja keras kita semua,” ujar dia.