Trenggalek – Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu penghasil buah durian terbesar di Jawa Timur. untuk meningkatkan kualitas dan mencari varietas durian lokal unggulan, puluhan petani setempat mengikuti kontes durian.

Kontes durian lokal yang diselenggarakan di Desa wisata Sawahan, Kecamatan Watulimo, Trenggalek ini diikuti oleh 64 peserta dari kelompok tani maupun perseorangan yang berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Trenggalek. seluruh durian yang dilombakan merupakan varietas lokal unggulan asli Trenggalek.

Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Dispertahutbun) Trenggalek, Joko Surono mengatakan, kontes durian yang digelar setiap satu tahun sekali ini sengaja dilakukan untuk mencari bibit-bibit durian lokal unggulan .

Dari beberapa kali kontes, pihaknya telah mendapatkan tiga varietas unggul yang telah disertifikasi oleh Kementerian Pertanian, yakni durian Ripto, Kunir dan durian Rindu. “Ketiga jenis durian tersebut kini mulai dikembangbiakkan di wilayah Trenggalek,” katanya.

Dalam kontes raja buah tersebut, dewan juri memberikan beberapa penilaian dengan beberapa kriteria, mulai dari sisi rasa, warna, bentuk, bobot , tingkat kelembutan serta ketebalan buah. Anggota juri yang dipilih merupakan pakar buah durian , dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur serta para ahli durian.

Salah seorang anggota juri, Al Gamal Pratomo Dari BPTP Jawa Timur mengatakan, potensi durian lokal di Trenggalek cukup tinggi, karena memiliki varian bentuk dan rasa yang beraneka ragam. “Yang unik, durian asli Trenggalek ini rata-rata memiliki cita rasa manis, berbeda dengan daerah lain,” katanya.

Gamal menambahkan, dalam kontes durian, pihaknya lebih menekankan aspek penilaian pada cita rasa, mengingat komoditas buah yang dicari adalah rasa. Meski demikian, pihaknya juga tidak melupkan aspek lain, seperti warna dan bentuk buah.

“Penikmat durian itu yang dicari pasti rasanya, bukan kulit sama bijinya,” ujarnya.

Antusiasme para petani yang mengikuti kontes ini cukup tinggi, mereka saling bersaing untuk menampilkan durian terbaiknya. Salah satu peserta, Amin mengaku durian yang dilombakan memiliki cita rasa dan kualitas yang unggul.

“Durian yang saya lombakan ini didapatkan dari pohon induk yang kini sudah berumur lebih dari 80 tahun, karena ini merupakan peninggalan kakek buyut,” kata AMin.

Sementara itu Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak mengaku, selain untuk mencari durian unggulan, lomba ini juga merupakan ajang wisata dan sarana untuk mengenalkan buah lokal asli Trenggalek kepada masyarakat umum.

“Produksi buah durian kita per tahun rata-rata mencapai lebih dari 15 ribu ton, ini adalah anugerah yang luar biasa dan yang perlu diketahui, durian asli Trenggalek sudah dikenal di berbagai daerah,” katanya.

Dengan munculnya bibit-bibit durian lokal unggulan diharapkan akan membwa dampak positif terhadap kualitas serta kuantitas durian Trenggalek. Pihaknya mengaku, durian yang dinyatakan sebagai pemenang akan diusulkan untuk mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Pertanian. “Itu nanti akan dikembangkan melalui metode top working, sehingga durian lokal non unggulan bisa diubah menjadi berkualitas,” imbunya.

Pda kontes raja buah kali ini, pihak dewan juri akhirnya memilih durian jenis Pokping milik Agus warga Desa Slawe, Kecamatan Watulimo, serta durian pangan milik pangat warga Desa Karangrejo, Kecamatan kampak sebagai juara satu dan dua.