Ponorogo – Dari sekian ratus Kepala Desa atau kades di Kabupaten Ponorogo yang berakhir masa jabatannya pada tahun ini, tidak sedikit yang sudah merancang ke kancah politik pada level yang lebih tinggi. Bukan hanya kades atau lurah yang masa jabatannya berakhir tahun ini saja, banyak kades yang sudah menjadi dongkol beberapa tahun juga ikut nyaleg.

Keberhasilan beberapa kades di Bumi Reyog dalam Pileg April 2009 silam menjadi acuannya. Seperti diketahui saat ini ada 4 kades di Ponorogo yang sukses menjadi Anggota DPRD Kabupaten Ponorogo 2009-2014, yaitu Supriyadi (PNI Marhaenisme – Dapil 3), Sunoto (Partai Demokrat – Dapil 2), Muryanto (PKPI – Dapil 6) serta Nurkholis (PPP Dapil 6).  Inilah yang menjadi mahgnet para mantan kades untuk ikut memperebutkan tiket etan aloon-aloon (sebutan gedung DPRD Ponorogo) pada Pileg April 2014 yang akan datang.

Sementara itu berdasarkan data yang dihimpun www.edhiebaskoro.com , hampir di seluruh Kabupaten/Kota se-Jawa Timur tercatat 96 orang mantan kades terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten/Kota se-Jawa Timur dari beberapa Partai politik (parpol). Dan hanya 1 orang terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Sedangkan Kades yang terbanyak menduduki kursi empuk terjadi di DPRD Tulungagung ada 10 orang mantan kades terpilih sebagai anggota DPRD setempat pada pereode 2009-2014.

Mungkinkah sukses puluhan kades pada Pileg 2009 silam akan diikuti oleh puluhan mantan kades di Ponorogo pada Pileg 2014 mendatang? Kita tunggu saja. Beberapa hari lalu KPU Kabupaten Ponorogo juga sudah merilis Daftar Caleg Sementara yang didaftarkan 12 Parpol pada 22 April 2013 dan saat ini dalam tahap pembetulan.  “Kalau Kades aktif ikut mencalonkan diri atau Nyaleg konsekuensi ya harus mengundurkan diri sesuai aturan UU Pemilu yang ada,” ungkap Agung Nugroho, Komisioner KPU Ponorogo, Selasa (14/5).

Sementara Parpol yang digunakan para mantan Kades atau Lurah memperebutkan tiket Gedung etan aloon-aloon pun beragam, seperti Partai Nasdem, PKB, PDIP, PAN, Golkar, Demokrat, Gerindra, PPP dan Hanura. Sementara Parpol di Ponorogo yang kurang diminati para mantan Kades maupun Lurah adalah PKS, PKPI serta PBB.

Dari beberapa nama tersebut setelah diamati ternyata ada sekitar 38  orang mantan Kades/Lurah yang ikut didaftarkan oleh beberapa parpol. “Karena sudah dua kali menjabat, saya tidak bisa macung kades lagi. Insya Allah saya sudah mendaftarkan diri sebagai caleg Partai Demokrat,” ujar Sugijanto, kades Pohijo, Kecamatan Sampung.

Menurutnya, keinginan untuk memilih kendaraan Partai Demokrat Dapil 6 nomor urut 2 itu bukan atas inisiatif pribadi, tapi karena didorong dan dicalonkan oleh warganya. “Saya kira ini bagian dari sebuah pengabdian untuk masyarakat,” aku Sugijanto yang juga ketua Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Desa (PKPD) Eks PB Sumoroto ini.  

Sementara itu Ketua Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara DPK Ponorogo, HM. Susanto mengatakan cita-cita mengabdi untuk rakyat Desa akan dilanjutkan para caleg yang berlatar belakang kades. “Ini panggilan nurani teman-teman mantan Kepala Desa, termasuk saya pribadi untuk mengabdi membangun Desa melalui jalur legislatif di DPRD Ponorogo,” papar HM. Susanto .

Sedangkan mantan Ketua Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Desa (PKPD) Kabupaten Ponorogo, Nyamut Suseno berharap kepada teman-teman yang maju sebagai Caleg benar-benar mempersiapkan diri dengan matang. “Selain itu nanti kalau sudah terpilih, teman-teman harus benar-benar komitmen memperjuangkan aspirasi masyarakat,” pesan Nyamut yang juga mantan Cawabup berpasangan Cabup Supriyanto pada Pilkada 2010 silam.

Banyak pihak mengapresiasi positif  yang dilakukan oleh para mantan Kades maupun Lurah yang akan bertarung dalam Pileg 2014 mendatang. “Macungnya puluhan mantan Kades maupun Lurah dalam Pileg mendatang merupakan trend positif yang perlu dihargai,” ujar Fajar Pramono, pengamat politik Ponorogo.

Dia berharap para mantan Kades maupun Lurah bisa memperjuangkan aspirasi wong Ndeso. Selain itu, trend Kades atau Lurah maju sebagai Caleg adalah konsekuensi dari pemilihan langsung. “Mereka (mantan Kades) secara umum memahami territorial dan mengusai masalah. Tetapi lemah dalam artikulasi politik,” tutup Fajar yang juga Dosen ISID Gontor ini. (MUH NURCHOLIS)