Ngawi-Wayang kulit merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang kini mendapat pengakuan dunia. Diperlukan upaya konsisten dan sungguh-sungguh untuk melestarikannya agar tidak mengalami kepunahan. Hal inilah yang menginspirasi festival dalang dan karawitan usia SD di Pendopo Wedya Graha Ngawi . Kegiatan ini digelar selama dua hari mulai Kamis 30 – 31 Mei 2013.

Dalam festival ini setiap dalang berikut para pengrawit diberikan durasi waktu selama 40 menit untuk tampil. Selain dituntut untuk memahami karakter wayang, para dalang cilik ini juga harus mampu menguasai alur cerita.

Festival dalang cilik ini diikuti tidak kurang dari 25 peserta dan grup kerawitan dari pelajar setingkat SD dan SMP dari UPT Dinas Pendidikan di 19 kecamatan. Pada hari pertama, festival dibuka dengan tampilnya salah satu dalang cilik dari UPT Widodaren mengambil lakon Jabang Tetuko dan diteruskan tampilnya Niken Ayu Pratiwi yang merupakan dalang cilik dari UPT Kecamatan Paron dengan lakon Wahyu Irawan.

Sedangkan pada hari kedua 13 dalang berikut pengrawit juga unjuk kebolehan untuk merebutkan tropy dari Bupati Ngawi. Sukadi ketua panitia festival dalang cilik dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Olahraga (Disporabudpar) Kabupaten Ngawi menjelaskan pihaknya melibatkan tiga dewan juri dari Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Ketiga dewan juri tersebut yaitu; Ki Suluh Juniarsah dari Pepadi Kabupaten Klaten, Ki Juworo Bayu Kusumo dari Pepadi Kabupaten Sragen dan Ki Halintar Cokro Padnobo dari Pepadi Kabupaten Surakarta.

Para dewan juri tersebut ungkap Sukadi, memberikan penilaian  sesuai dasar seni pedalangan wayang kulit termasuk iringan musik gamelan dari para pengrawit. “Dalam memberikan nilai para dewan juri ini mengacu pada sabet, ontowecono atau karakter suara dan terakhir pada penilaian iringan gamelan harus pas,” kata Sukadi. Selain itu tambahnya, festival dalang cilik merupakan bagian dari agenda dalam peringatan HUT Kabupaten Ngawi ke-655.

Sementara Ir Budi Sulistyono Bupati Ngawi memberikan apresiasi tersendiri atas terselenggaranya festival dalang cilik dan kerawitan yang bakal menjadi agenda rutin ini. Jelasnya, wayang kulit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian budaya Jawa yang adiluhung. “Melalui festival dalang ini sangat kita harapkan bersama nantinya anak dapat berkembang sesuai karakter bangsa Indonesianya yang berbudaya, karena seni wayang kulit tersebut di dalamnya terkandung tuntunan yang sangat mulia dalam rangka menjalani kehidupan di tengah masyarakat,” jelas Ir Budi Sulistyono. (Ardian)