PACITAN-  Meski terbebas dari klaim daerah rawan pangan, namun demikian luas lahan persawahan di Kabupaten Pacitan, dari tahun ketahun terus mengalami pengalihan fungsi. Kabid Penyuluhan Dan Sarana Prasarana, Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan setempat, Bagianto mengatakan, merujuk pendataan dari Pemprov Jatim, setiap tahun kecenderungan pengalihan fungsi lahan persawahan mencapai 10 persen lebih. Hal tersebut dilatar belakangi beberapa alasan. Yang pertama, adanya perluasan area perkotaan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang diikuti dengan peningkatan pendapatan perkapita, serta tingginya angka populasi penduduk. “Pengalihan lahan persawahan memang cenderung terjadi setiap tahunnya.  Ini persoalan yang perlu disikapi lebih serius lagi,” ujar Bagianto, saat dikonfirmasi Sabtu (16/3).

Dia mengatakan, dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Pacitan, tiga wilayah diantaranya paling tinggi mengalami pengalihan lahan. Tiga kecamatan tersebut seperti Pacitan, Ngadirojo dan Arjosari. Sementara Sembilan kecamatan lainnya, relatif kecil. “Secara geografis, tiga kecamatan tersebut berada di lokasi datar,” sebutnya pada awak media.

Bagaianto mengakui, Pemkab masih sangat kesulitan memberikan penyadaran kepada masyarakat petani untuk meminimalisir terjadinya pengalihan fungsi lahan. Sebab satu sisi, kepentingan ekonomi masyarakat memang jauh lebih tinggi. Sementara dilain pihak, pemerintah memang belum memberikan jaminan secara ekonomi terhadap masyarakat petani pemilik lahan agar tidak mengalih fungsikan lahannya.

Menurut Bagianto, ada beberapa hal mendasar untuk menekan laju alih fungsi lahan. Misalnya dengan program sertifikasi lahan pertanian. Sebab dengan sertifikasi, kepemilikan asset akan lebih terjamin secara hukum. Selain itu juga adanya jaminan akses pasar terhadap hasil pertanian. “Beberapa langkah tersebut, kemungkinan akan menstimulus masyarakat untuk tidak mengalih fungsikan lahan persawahannya,” tandasnya dia.

Sementara itu dirangkum data, jumlah lahan persawahan di Kabupaten Pacitan tercatat kurang lebih sekitar 16.000 hektar. Yang meliputi lahan sawah, irigasi dan tadah hujan. (Yuniardi Sitondo)