Ngawi- Berbicara makna peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April tentu membuat banyak pemikiran dari kaum perempuan itu sendiri. Terlebih dalam kurun waktu satu abad lebih ini sudah banyak hal yang dihasilkan dari perjuangan RA.Kartini yakni selangkah lebih maju dalam membangun eksistensi perempuan dari yang sebelumnya  perempuan hanya dikonstruksi sebagai sosok yang berkecimpung diranah domestik. Namun ditengah rekuntruksi identitas itu, ternyata masih adanya sederet permasalahan yang menjerumuskan kaum perempuan tanpa ada satupun solusi. Kekhawatiran inilah yang dirasakan Dra.Samini salah satu tokoh sentral perempuan yang berkutat di Kabupaten Ngawi.

Menurutnya hingga sekarang ini korban kekerasan secara umum masih terabaikan seperti korban KDRT, kekerasan seksual dan lainya. “Belum ada data yang pasti berapa jumlah perempuan di wilayah Ngawi ini dari tahun ke tahun sebagai korban kekerasan, dan parahnya hingga saat ini belum ada lembaga konseling atau pendampingan terhadap korban,” terang  Samini

Samini menilai, perlindungan terhadap perempuan tidak hanya digelar melalui seremonial kegiatan yang ujungnya tanpa ada tindak lanjut. Sehingga dalam beberapa dekade  dirinya mengabdi sebagai wakil rakyat, perempuan hanya dijadikan sebagai subyek manakala ada satu titik persoalan yang mendera kaum hawa tersebut. secara detail sebagai anggota DPRD Ngawi selama lima periode ini, saya melihat belum ada penuntasan kasus yang bersifat komperhenship,” tandasnya.

Dirinya sangat berharap  terbentuknya lembaga konseling yang menangani korban kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Ngawi. “Kita akan bekerja nyata sesuai apa yang diharapkan masyarakat terutama kaum perempuan terlebih di Ngawi ini ada sekian kasus yang mendera buruh migran tapi kasusnya hanya berjalan ditempat,” ucapnya.

Riilnya pendampingan secara psikologis terhadap korban kekerasan mutlak dilakukan. Dia menegaskan dalam kasus kekerasan terhadap perempuan, perempuan sebagai obyek kekerasan seringkali mengalami posisi yang sangat dilematis yakni karena dia menerima berbagai stigma yang dikaitkan dengan nilai-nilai sosial. Misalnya, kasus perempuan dalam rumah tangga ketika si istri yang dipukul suami dengan berbagai alasan. Akibat perlakuan tersebut jelas bukan hanya luka fisik tapi juga psikis. Luka fisik akibat kekerasan mungkin bisa sembuh, namun luka hati memerlukan proses panjang. Bahkan mereka tidak jarang mengalami depresi berat yang akan merugikan si perempuan itu sendiri.

Maka dengan berbagai dasar itulah Samini menganggap perlu adanya bimbingan secara moral guna mengembalikan semangat hidupnya. “Kalau perlakuan tersebut tidak secara cepat ditangani maka akan berakibat dan mempengaruhi perilaku dalam interaksi interpersonal maupun sosialnya ditengah masyarakat,” tegasnya.

Konsekuensi logisnya, bahwa pendampingan secara psikososial yang efektif akan mampu mewujudkan kemandirian sekaligus satu solusi pemberdayaan terhadap perempuan korban kekerasan.

“Kita berharap kedepanya kaum perempuan bisa mengikuti dinamika perkembangan sosial yang terjadi di masyarakat sekaligus mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya,” tukasnya.

Pendampingan pada korban menurut Samini akan sangat relevan dengan upaya preventif sebagai acuan dasar menghapus dan mencegah kekerasan terhadap perempuan.”Manakala seorang perempuan lebih memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dengan kesadaran matang, tanpa paksaan sehingga disana ia mampu menemukan dirinya, maka hal tersebut sebenarnya sudah merupakan bentuk dari emansipasi. Begitu juga sebaliknya, tatkala seorang perempuan ingin bereksistensi di ruang publik, tanpa paksaan dengan tetap memperhatikan peran dan nilainya sebagai seorang ibu dan perempuan, maka hal tersebut sudah perwujudan dari emansipasi. Sehingga pada perayaan hari Kartini ke-134 ini, sebagai pangkal tolak untuk merefleksi diri menjadi seorang perempuan yang memiliki nurani untuk terus berkarya dan bereksistensi hingga ke masa depan,” pungkasnya. Ardian