TRENGGALEK – Sekelompok pemuda pesisir selatan Trenggalek, Jawa Timur sukses menyelenggarakan even tahunan yang dikemas dalam “Prigi Fest 2016”, salah satu kegiatan yang paling diminati adalah lomba balap miniatur kapal nelayan, 19-21 Februari.
Ketua Panitia Prigi Fest, Anjar Priadi mengatakan, selain lomba balap miniatur kapal nelayan, juga didigelar berbagai kegiatan lain, diantaranya, lomba peragaan busana, pameran aneka produk unggulan Trenggalek, pameran miniatur kapal, serta beberapa kegiatan lain. 
“Ini adalah kegiatan tahun kedua, Alhamdulillah antusias masyarakat sangat besar sekali,” katanya.
Menurutnya, dari sejumlah rangkaian acara, lomba balap miniatur kapal nelayan menjadi salah satu ikon dan mampu menyedot perhatian ribuan masyarakat. Lomba balap miniatur ini diikuti oleh 20 peserta dari berbagai kecamatan. 
Anjar mengaku, peminat lomba ini cukup banyak, namun pihaknya sengaja membatasi hanya 20 peserta, karena keterbatasan waktu peyelengaraan. Yang menarik, seluruh kapal mini yang dilombakan merupakan karya pengrajin Trenggalek yang dibuat secara manual. 
“untuk penggeraknya, mereka memanfaatkan mesin dinamo serta alat kendali milik mobil remote kontrol, sehingga bisa dioperasikan jarak jauh,” ujarnya.
Dijelaskan, lomba balap miniatur kapal ini sengaja digelar sebagai ruang kreatifitas pagi para nelayan maupun pengrajin Trenggalek. Selain itu juga sekaligus sebagai salah satu motor untuk menumbuhkembangkan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Dengan cara ini kita semua jadi tahu, ternyata banyak potensi yang ada di Trenggalek,” imbuhnya. 
Sementara itu salah seorang peserta, Khoirul Anam mengatakan, untuk pembuatan miniatur kapal nelayan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Dari rangkaian proses tersebut yang paing sulit adalah pembuatan lambung kapal.
“Karena harus disesuaikan juga dengan dinamo yang digunakan sebagai penggerak kapal, kalau salah sedikit saja kapalnya tidak bisa seimbang dan rawan tenggelam,” katanya. 
Satu unit miniatur kapal nelayan lengkap dengan mesin dan remote kontrol, para pengrajin rata-rata menghabiskan dana antara Rp3 juta hingga leih dari Rp5 juta. 
Tak hanya lomba balap miniatur kapal saja yang mampu menyedot perhatian warga, pameran aneka produk unggulan Trenggalek juga banyak dikunjungi masyarakat. Pameran ini menyajikan aneka buah asli Trenggalek, mulai dari kain batik, aneka makanan serta sejumlah kerajinan tangan. 
“Yang menarik itu adalah miniatur kapal Phinisi serta beberapa jenis kapal lain, ornamen-ornamnennya dibuat secara detail, sehingga bentuknya itu mirip dengan aslinya,” kata salah seorang pengunjung, Efendi.
Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak mengaku sangat mengapresiasi kreatifitas warga pesisir selatan, pihaknya berharap kegiatan serupa rutin digelar setiap tahun. Sehingga mampu memberikan sumbangsih terhadap sektor pariwisata di Trenggalek. “Semua harus ikut mendukung, agar kegiatan ini dikenal hingga keluar daerah,” katanya. (Dimas)