PONOROGO  – Barno selaku Kepala Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo tidak kurang akal untuk memberikan peningkatan kemakmuran warganya yang mayoritas sebagai petani. Pasalnya, melalui dana Desa sebesar Rp. 20 juta, mampu memfungsikan pengairan sawah dan tegalan melalui pemanfaatan sumur P2T yang mangkrak sejak tahun 1990.

 

    Kades Bringinan yang juga  memiliki usaha pupuk organik Star Baruno ini mengungkapkan, memanfaatkan sesuatu menjadi berguna untuk kemakmuran masyarakat Desa Bringinan menjadi tujuan utama saya menjadi Kepala Desa. “Saya siapkan melalui dana desa sebesar 20 juta, dua bantuan sumur P2T di Desa Bringinan Saya fungsikan kembali. Dan ini sangat efektif bermanfaat bagi petani untuk pengairan sawah dan tegalan,” ujar Barno.

 

    Dia juga menjelaskan, dengan cost Rp. 20 juta bisa digunakan untuk menjadikan barang yang tidak fungsi menjadi fungsi. Seperti sumur bantuan P2T di desa Bringinan. Sumur bantuan P2T itu sudah lama mangkrak sejak tahun 1990 jadi sekitar 20 tahun sudah tidak difungsikan, karena mahalnya perawatan.

Barno juga menambahkan, pemanfaat sumur P2T kedepannya akan diserahkan pada kelompok HIPA di desanya. “Jadi dana yang sudah dianggarkan itu untuk membeli spido listrik, pompa sibel kemudian dibuatkan cubung. Bisa dilihat hasilnya dua sumur P2T sekarang sudah bisa difungsikan kembali oleh warganya,” jelasnya. Jadi pihaknya hanya menggunakan sumur pathoknya, dan jaringannya. Karena jaringan yang sudah ada sangat berfungsi untuk mengalirkan air dari sumber P2T.

 

    Menurutnya, fungsi dan kegunaan sumur P2T sangat besar, bisa mengaliri lahan sekitar 30 hektar. “Ini Saya lakukan agar Desa lain bisa memanfaatkan sumur P2T untuk difungsikan kembali. Saya yakin bila hal ini dilakukan untuk Ponorogo saja ada ratusan sumur P2T. Kalau di Jatim ada ribuan yang rata-rata semuanya mangkrak,” lanjutnya. Oleh karena itu, pihaknya memulai pertama memfungsikan kembali sumur P2T demi kemajuan dan kemakmuran para petani.

 

    Secara umum, pemanfaatan kembali pengairan sawah dan tegalan melalui sumur P2T diberikan kepada pengurus kelompok Himpunan Pengelola Air (HIPA) di desa Bringinan. “Dan hasil dari pemasukan akan digunakan untuk membayar meteran listrik, untuk perawatan sibel. Warga sangat terbantu dan merasa lebih ringan dibandingkan mengambil sendiri air dari disel,” jlentrehnya.

 

    Terus terang saya tidak izin. Pihaknya beranggapan ada bantuan di Desanya, seperti bantuan sumur P2T ini yang sudah lama mangkrak, kemudian difungsikan kembali. “Seandainya apa yang Saya lakukan ini menyalahi aturan dari P2T Madiun. Saya siap untuk dimintai keterangan. Saya tahu kebanyakan para kepala Desa pada takut karena tidak tahu harus izin kemana. Saya yakin bila hal ini akan dimasalakan pihak P2T Madiun, Saya akan mengembalikan semua sesuai dengan aslinya,” tukasnya. (MUH NURCHOLIS)