Trenggalek – Peristiwa alam gerhana matahari total (BMT) yang terjadi di Indonesia, dimanfaatkan oleh sejumlah pelajar sekolah dasar (SD) dan kelompok penggemar ilmu astronomi di Desa kerjo, Kecamatan karangan, Kabupaten Trenggalek untuk melakukan pengamatan langsung. 
 
Meskipun wilayah Trenggalek tidak hanya dilewati gerhana matahari sebagian, namun para pelajar SD tersebut tampak antusias melihat fenomena alam yang terjadi puluhan tahun sekali ini.
 
Dengan menggunakan kacamata khusus dan teleskop sederhana milik kelompok astronomi, mereka mengamati pergerakan bulan yang secara perlahan-lahan menutupi matahari.
 
Salah seorang pelajar, Rama mengaku senang bisa melihat langsung gerhana matahari, karena selama ini ia hanya mempelajari melaui ilmu teori yang diberikan oleh guru di sekolah. “Tadi kita bisa melihat matahari yang awalnya bulat kemudian sedikit demi sedikit tertutup,” katanya. 
 
Sementara itu salah seorang penggiat ilmu astronomi di Trenggalek, Sumantri Hari Bimo Sekti mengatakan, untuk di wilayahnya, gerhana matahari mulai terjadi selama dua jam, mulai pukul 6.20 WIB.
 
“Sesuai dengan prediksi dari Lapan, gerhana di Trenggalek mencapai 80 persen,” ujarnya. 
 
Bimo mengaku sengaja melakukan pemantauan langsung detik-detik gerhana di kampung halamannya, hal ini dilakukan untuk memberikan edukasi kepada warga serta pelajar yang ada di desanya. “Tidak ada yang perlu ditakutkan, ini adalah ilmu pengetahuan,” katanya. 
 
Selama melakukan peengamatan, ia bersama sejumlah pelajar dan warga bisa melihat secara langsung pergerakan terjadinya gerhana matahari. Namun proses pengamatan ini sedikit terkendala oleh minimnya peralayan.
 
“Dua teleskop yang kami pakai ini adalah buatan sendiri yang saya rakit menggunakan barang-barang bekas, sehingga berkalai-kelai harus digeser agar pas dengan posisi matahari,” kata Bimo. (dim)