PACITAN- Layaknya murid yang tengah mengikuti ujian kenaikan kelas. Begitulah yang dialami semua bakal calon anggota legislative yang mendaftar di Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat (PD) Kabupaten Pacitan. Untuk bisa mendapatkan “tiket” sebagai calon anggota legislative dari parpol berlambang Bintang Mercy tersebut, sebanyak 62 orang bacaleg diharuskan mengikuti seleksi sangat ketat. Selain diuji kemampuan itelejensinya, mereka juga diharuskan menyampaikan pemaparan. Tidak hanya itu, para calon wakil rakyat juga akan di survey tingkat keterpilihannya.


Wakil Ketua DPC PD Kabupaten Pacitan, Sulijanto mengatakan, ada empat hal yang akan diujikan bagi semua bacaleg. Yaitu penilaian porto folio, pemaparan, phsikotest dan survey elektabilitas. “Keempat hal tersebut harus diikuti semua bacaleg tanpa kecuali. Satu hal tidak dilalui, mereka dinyatakan gugur,” tegas Sulijanto, saat dihubungi melalui ponselnya, Senin (8/4).


Dia mengatakan, terkait penilaian portofolio dan pemaparan, dilaksanakan oleh tim DPC PD Pacitan. Akan tetapi khusus phsikotest dan tingkat keterpilihan bacaleg, panitia menunjuk lembaga survey Transformasi Indonesia sebagai liding sektornya. “Kami objektif dalam melaksanakan seleksi,” ujar mantan Kasubdin SLTP/SM Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan ini, kemarin.

 

Masih menurut Sulijanto, berdasarkan hasil survey sementara, secara umum elektabilitas PD di Pacitan relative stabil. Bahkan ada kecenderungan terjadi ekskalasi. Akan tetapi, dia menegaskan, survey tersebut belum menyentuh ditataran para bakal calon. “Hasilnya sekitar tiga hari kedepan baru bisa dilihat,” cetusnya.

 

Sementara itu salah seorang bacaleg PD, Arif Setya Budi menilai, langkah yang diambil panitia penjaringan bacaleg PD sudah sangat tepat. Menurutnya, itu sebagai terobosan baru agar para caleg nantinya benar-benar berkualitas dan memiliki nilai tawar sangat tinggi terhadap konstituen. Lain itu, politisi yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Konsultan Publik ini mengatakan, salah satu cara mengukur kompetensi bacaleg dan tingkat elektabilitasnya, tentu dengan system seleksi semacam itu. Meski dia akui, sebelumnya sempat menuai kontroversi. “Dunia politik memang tidak bisa ditarik garis linier dengan dunia akademisi. Namun, mekanisme semacam itu sangat kami apresiasi untuk memunculkan jago-jago yang memang berkualitas,” tandasnya. Tim Media Pacitan