Pacitan –Citra pengayom korps berbaju coklat kembali dipertanyakan. Ini kali pertamanya terjadi di wilayah Pacitan. Seorang oknum anggota Polres Pacitan menghardik wartawan saat para kuli tinta ini akan melakukan kegiatan jurnalistik. Bahkan, Oknum Perwira siaga berpangkat Aiptu itu pun sempat terlibat saling dorong dengan para awak media.

Peristiwa tersebut bermula saat 5 orang wartawan dari beberapa media meliput tindak pidana pencurian, Jumat (5/4/2013) siang. Usai wawancara dengan Kasatreskrim AKP Sukimin di ruangannya, para wartawan lantas menuju ke ruang Unit II. Tujuannya, untuk mengambil foto  4 orang tersangka dari 3 kasus berbeda.

Semula aktivitas jurnaslitik tersebut berjalan lancar. Namun ketenangan mendadak terusik setelah seorang anggota polisi berperawakan besar dan berseragam lengkap ikut masuk ruangan. Awalnya, pria berkumis yang diketahui bernama Suprapto tersebut menanyakan nilai barang bukti yang diambil tersangka.

Tanpa sebab jelas, dirinya lantas menggertak wartawan agar kasusnya tidak dibesar-besarkan.  Apalagi barang buktinya hanya Rp 29 ribu. Sebagai gantinya, oknum polisi itu menyuruh wartawan mengungkap tindak pidana korupsi saja.

Tidak hanya itu, kalimat bernada ancaman juga sempat keluar dari mulut Suprapto. Itu jika dirinya termasuk obyek yang terbidik kamera wartawan. “Sampai manapun saya ancam kamu,”hardiknya sambil beranjak keluar ruangan.

Rupanya, sikap emosional Suprapto tak terhenti disitu. Pria yang pernah bertugas di Mapolsek Pacitan itu kembali terlibat adu mulut saat wartawan hendak meninggalkan Mapolres. Pelaku sempat menghentikan Sujarismanto, kameraman JTV Pacitan persis di samping ruang SPK. Di tempat itu pelaku kembali menebar ancaman.

Mengetahui rekannya menjadi sasaran, 4 wartawan lain yang berada di belakang Sujarismanto, menghampiri Suprapto. Saat itu, puluhan anggota polres dari berbagai kesatuan ikut berkumpul setelah mendengar suara gaduh.

Alih-alih menenangkan diri, Suprapto justru terlibat saling dorong dengan Nofika Dian Nugroho, wartawan Radar Madiun. Dia juga mengklaim sebagai perwira siaga yang memiliki kewenangan. Aksi baru terhenti setelah Kasatreskrim AKP Sukimin ikut turun melerai.

“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Kami datang untuk melaksanakan tugas peliputan. Kenapa justru diperlakukan seperti itu?” keluh Nofika.

Wakapolres Pacitan Kompol Edy Priyono dikonfirmasi mengaku sudah mendapat informasi terkait insiden tersebut.  Saat jumpa pers yang diselenggarakan beberapa menit setelah kejadian, perwira polisi yang mengaku lama bertugas di Sulawesi menyatakan permintaan maaf atas tindakan anggotanya.

Tidak itu saja, dirinya juga mengaku terkejut.  Sebab, selama ini hubungan Polres Pacitan dengan wartawan cukup harmonis. Hal itu, lanjut Edy, terjadi di luar kontrol. Secara internal, kejadian tersebut diharapkan menjadi koreksi bagi internal kepolisian.

“Kami mewakili Bapak Kapolres, pertama memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kejadian ini bisa kita jadikan pelajaran, baik rekan-rekan wartawan maupun kami ke dalam untuk saling menghormati profesi masing-masing,” ujar Wakapolres seraya berjanji yang bersangkutan akan mendapat pembinaan khusus. (frend mashudi)