Meraih prestasi dan kedudukan tertinggi didunia politik, mungkin sangat diidamkan oleh sebagian orang. Akan tetapi, bukan hal gampang untuk mewujudkan impian tersebut. Pengorbanan waktu, pikiran dan juga materi yang tidak sedikit, harus ditempuh oleh para politisi yang ingin sukses berkarier didunia penuh tantangan tersebut. Begitulah sekilas yang mungkin terjadi pada diri Sutarno, Anggota Fraksi Partai Demokrat, DPRD Kabupaten Pacitan setelah dua periode terpilih sebagai wakil rakyat. Bagaimana awal mula ia meniti karier sebagai legislator, berikut laporannya:
Yuniardi Sutondo/Pacitan

Pemilu Legislatif Tahun 2004, merupakan tonggak awal bagi mantan Kades Bubakan, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan ini, memulai lembaran baru sebagai seorang politisi yang tergabung disalah satu Parpol besutan Presiden SBY. Bagi Sutarno, dunia politik merupakan alam baru. Hitam putihnya profesi berbasis massa tersebut, sama sekali belum ia kenal. Namun dilatar belakangi niat dan keinginannya untuk menjadi wakil rakyat yang begitu tinggi, bapak tiga anak tersebut akhirnya terjun dan mengadu keberuntungan menjadi calon anggota dewan. “Awalnya hanya niat, dan restu dari keluarga,” ujarnya, saat ditemui dikediamannya, Lingkungan Barean, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, Rabu (5/6).
Seraya memandangi langit-langit salah satu ruang dikediamannya, Sutarno lantas memulai cerita. Bagi dia, dunia politik ternyata tidak hanya butuh ketenaran. Popularitas dan kebesaran nama, belum menjadi jaminan seseorang akan lolos “mencuri” kursi dewan. “Yang utama ini Mas, vulus. Tanpa dukungan itu, sulit rasanya untuk mendapatkan simpati dan dukungan pemilih,” kata suami dari Nuryati ini.
Ya, finansial ternyata menjadi modal pokok bagi para calon anggota dewan untuk bisa berkompetisi mendapatkan lencana emas sebagai wakil rakyat. Tak tanggung-tanggung rupiah yang harus Sutarno “buang” demi sebuah tahta prestisius selama lima tahun. Ia mengungkapkan, mulai start awal hingga finish di gedung dewan, sekitar Rp. 1,2 miliar yang harus dikeluarkan demi meraih sekitar 4.000 suara pemilih. “Rumah dan aset berharga lainnya, saya pertaruhkan. Keputusan, ada ditangan Tuhan. Saya hanya berusaha dan berusaha,” tutur bapak dari Eko Wahyudi, Agus Purwanto, dan Lisyto Harini ini pada wartawan.
Sekalipun harus kehilangan miliaran rupiah, akan tetapi Dewi Fortuna rupanya masih berpihak kepadanya. Sutarno akhirnya terpilih dan dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Pacitan, masa bhakti 2004-2009 kala itu. “Meski harus kehilangan rumah, tapi kami bersyukur bisa duduk sebagai wakil rakyat. Ini amanah berat yang harus saya emban demi kesejahteraan masyarakat,” sambungnya.
 Tak cukup sampai disitu, sebagai jiwa petarung, Sutarno masih tak kapok kembali ke panggung politik pada Pileg 2009 silam. Pengalaman lima tahun sebelumnya, tak membuatnya jera dan gamang. Sekalipun sempat terlintas dalam benak pikirannya, apa lagi yang akan ia jual demi terpilihnya kembali sebagai anggota legislator. Tanpa pikir panjang, rumah tempat tinggal berlantai dua yang berlokasi di Perum Asabri, Barean, Kelurahan Sidoharjo berikut aset-aset berharga yang masih tersisa ia lego demi sebuah pertaruhan jabatan. “Rumah saya satu-satunya, akhirnya saya lelang dalam waktu satu jam. Alhamdulillah saat itu laku 150 juta. Saya hanya menyisakan 6 juta buat bekal keluarga dirumah. Selebihnya langsung saya serahkan ke tim untuk jalan,” bebernya dengan terbuka.

Pertarungan politik Pileg 2009 kembali ia ikuti. Hingga kursi dewan masa bhakti 2009-2014 kembali ia dapatkan. Namun ini kali, modal yang ia keluarkan tak sebesar periode sebelumnya. sekalipun begitu, nominal yang harus terbuang cukup untuk membeli satu unit mobil bekas sekelas Toyota Alphard serie tertinggi. “Nggak mencapai 1 miliar, hanya sekitar 900 juta saja,” akunya.

Sekarang, diusianya yang sudah lebih saparuh abad, Sutarno mengaku masih ingin kembali bertarung pada Pileg 2014 mendatang. Hanya satu harapan bagi dia, semoga selama satu dekade menjadi wakil rakyat, bisa memberikan yang terbaik kepada masyarakat. “Semoga saya bisa terpilih kembali. Sehingga program-program selama lima tahun terakhir yang belum terealisasi, bisa kami lanjutkan diperiode mendatang,” pungkasnya penuh harap. (**)