PONOROGO – KPU Kabupaten Ponorogo, Minggu (7/3), menggelar gerak jalan santai bersama perwakilan partai politik, PPK, PPS dan masyarakat umum. Tentu saja KPU ingin memerkenalkan  kepada masyarakat, bahwa pada pemilihan umum 2014 mendatang, ada sebanyak 12 partai politik sebagai peserta.

 

Acara jalan sehat diikuti ratusan peserta dari jajaran Forpimda,  KPU, panwaslu, perwakilan partai politik (parpol) peserta pemilu, Anggota DPRD, lembaga masyarakat, pers maupun warga Bumi Reyog. Titik kumpul  (start/finish) di depan Kantor KPU Ponorogo di Jalan Soekarno Hatta.

 “Acara sebagai media sosialisasi pemilu jujur dan adil dalam menyambut pelaksanaan pemilu 2014. Kita berharap Pemilu 2014 dapat berjalan dengan aman, jujur dan adil,” ujar Ketua KPU Ponorogo, Fatchul Azis.

 

Dengan harapan, masyarakat mengetahui dan ikut berpartisipasi dalam menyukseskan pemilihan umum 2014 yang akan digelar 9 April. “Kita mengharapkan supaya masing-masing partai politik, bisa memerkenalkan diri kepada masyarakat. Sebab, kita ingin menyampaikan bahwa ada sebanyak 12 partai politik sebagai peserta pemilu 2014 nanti. Waktu tidak lama, tinggal satu tahun dua hari menjelang pemilu. Tentu masyarakat harus mengenal partai peserta pemilu,” ungkapnya.

 

Hal senada disampaikan Ketua  DPC Partai Demokrat Ponorogo, Miseri Efendy. Katanya, partai politik sangat terbantu menyosialisasikan diri kepada masyarakat, dengan adanya acara yang dilaksanakan KPU. “Kita sangat terbantu oleh KPU, dalam memerkenalkan diri kepada masyarakat Ponorogo. Tentu saja, kita mengharapkan agar partisipasi masyarakat sangat besar dalam pemilihan umum 2014 mendatang,” pinta anggota DPRD Ponorogo dari Fraksi partai Demokrat dua pereode tersebut.

 

Menurut politisi yang kini menjabat sebagai anggota Komisi A DPRD Ponorogo itu, masyarakat tidak akan terpengaruh isu-isu nasional dan akan menggunakan hak politiknya pada pemilu 2014 mendatang. “Kita mengharapkan, supaya masyarakat menggunakan hak pilihnya sesuai dengan keinginannya. Karena, pilihan masyarakat menentukan arah dan masa depan Ponorogo khususnya dan Indonesia pada umumnya,” pintanya mengajak masyarakat ikut berpartisipasi.

 

Sementara, Pengamat Politik Ponorogo, Mohammad Noer  menilai, sosialisasi kepada masyarakat penting. Tetapi, sosialisasi tidak menjamin bahwa masyarakat akan gunakan hak pilihnya, karena masyarakat memiliki hak politik masing-masing. Tentu saja, cerminan demokrasi Indonesia yang sudah cenderung strong demokrasi (demokrasi kuat), sehingga masyarakat sudah sangat cerdas dalam menentukan pilihan-pilihan.

 

Melihat dari hasil pemilu kepala daerah beberapa daerah di Indonesia, jelas nampak, bahwa lebih banyak yang tidak menggunakan dari pada yang menggunakan hak pilihnya. Ini suatu bentuk, bahwa demokrasi kita masih prosedural belum mampu memberikan out put kepada masyarakat.

 

“Demokrasi kita masih sebatas prosedural, jujur, adil, terbuka. Namun, demokrasi sesungguhnya itu adalah hasilnya, dimana masyarakat sejahtera, aman, nyaman dan tentram. Sekarang kita lihat, masyarakat miskin bertambah miskin, kekacauan dimana-mana, penegak hukum saling serang. Belum lagi kasus-kasus pencurian, pelecehan seks terhadap anak. Ini yang dilihat masyarakat sebagai hasil demokrasi, yang akhirnya menimbulkan kejenuhan dan cenderung tidak memilih karena satu periode ke periode berikutnya sama saja,” tutur  Mohammad Noer.

 

Belum lagi, sambung dia, saat ini masyarakat dipertontonkan dengan sejumlah elit parpol yang pindah-pindah partai. Ini membuat masyarakat bimbang dan akhirnya memiliki penilaian masing-masing, bahkan cendrung menganggap bahwa kepentingan pribadi lebih ditonjolkan dari kepentingan masyarakat.

 

“Gonta-ganti partai menunjukan kader partai tidak solid. Ini meragukan masyarakat, tentang apa sebenarnya yang dicari. Apakah memang untuk kepentingan masyarakat atau hanya untuk kepentingan golongan dan pribadi. Kemudian baik di legislatif, eksekutif banyak elit politik terjerat kasus korupsi. Ini preseden buruk yang dilihat masyarakat, sehingga menimbulkan keraguan yang berujung kepada tidak mau tahu,” ulasnya.  (Muh. Nurcholis)