PACITAN- Meski proses rekapitulasi perolehan suara pada Pilkada Gubernur Jatim, Tahun 2013, masih terus berlanjut, namun jalan menuju Istana Grahadi bagi pasangan incumbent (petahana), Soekarwo-Saifullah Yusuf, untuk memimpin Jatim periode 2013-2018, semakin terbuka lebar. Itu setelah hasil hitung cepat, mendudukan pasangan calon bernomor urut satu tersebut, berada diperingkat teratas. Mantan Sekdaprov Jatim yang menggandeng mantan Menteri PDT itu, jauh meninggalkan tiga rival politiknya, saat pemungutan suara, Kamis (29/8) lalu.

Ketua KPU Kabupaten Pacitan, Damhudi, menandaskan, setelah diketahui hasil perolehan suara versi hitung cepat, hampir bisa dipastikan tidak akan ada pemungutan suara tahap dua. “Sebab sudah ada paslon yang meraup lebih dari 30 persen suara. Memang ini belum pasti, namun versi hitung cepat, dua paslon sudah meraup suara lebih dari batas minimum yang dipersyaratkan. Sehingga Pilkada Jatim, besar kemungkinan hanya satu putaran,” ujar Komisioner KPU dua periode ini, Jumat (30/8).
Mantan aktivis sebuah LSM ini menjelaskan, khusus Pilkada di DKI, capaian perolehan suara ditentukan minimal 50 persen plus satu. Sehingga proses pemungutan suara, cukup satu putaran. Damhudi menegaskan, ketentuan tersebut tidak berlaku di provinsi lain. “Seperti di Jatim, kalau sudah ada paslon yang mencapai 30 persen lebih, tentu tidak akan ada lagi pemungutan suara tahap ke dua,” tukasnya, kemarin.
Damhudi juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Pacitan, atas partisipasinya saat Pilkada Gubernur Jatim. Dia mengatakan, prosentase tingkat kehadiran pemilih di TPS mengalami peningkatan sebesar 5 persen dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. “Pada pemilu sebelumnya, kehadiran pemilih sekitar 70 persen. Namun saat ini mencapai 75 persen,” sebut Damudi.
Sementara pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya, dikarenakan beberapa hal. Satu diantaranya, mereka ada diperantauan dan tidak sempat pulang saat hari H pemungutan suara. Begitu juga, mahasiswa yang menempuh bangku kuliah di luar Provinsi Jatim, serta para petugas yang tidak berkesempatan datang ke TPS, lantaran beban tugas yang tidak bisa ditinggal. “Tiga hal tersebut yang melatarbelakangi, sejumlah pemilih tidak hadir di TPS,” jelasnya.(Yuniardi Sutondo)