PONOROGO – Kesederhanaan dan kesahajaan ternyata mampu menjadi modal meraih kemenangan. Itulah gambaran yang terjadi saat digelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, kemarin.

Sosok sederhana yang bernama Katmanto berhasil memenangi pesta demokrasi enam tahunan tersebut. Pun pula Katmanto berhasil unggul atas calon incumbent, Muyono dalam Pilkades kemarin. Siapa sangka dan mengira sosok sederhana yang sehari-hari bekerja mencari rosok atau pemulung berhasil menang telak atas calon incumbent. Bukan itu saja, bapak satu anak yang sudah diceraikan oleh istrinya berhasil menjadi orang nomor wahid di Pemerintahan Desa Sriti.

Walau hidup sebatangkara  tetapi pria yang terkenal kocak dan humoris ini dipercaya menjadi pimpinan Desa Sriti. Ironisnya lagi, Katmanto hidup seorang diri di rumah sederhana yang terbuat dari papan serta beralaskan tanah. Bahkan untuk sampai ke rumahnya, kita hanya bisa berjalan kaki. Kendaraan roda empat tidak bisa sampai ke rumah. 

Katmanto mengaku sebenarnya tidak terbesit niatan dalam benaknya untuk macung dalam Pilkades. “Dari awal, kami tak ada niat untuk ikut mencalonkan diri dalam Pilkades Desa Sriti,” aku Katmanto kepada wwe.edhiebaskoro.com , usai Pilkades kemarin. Dia sadar bahwa menjadi seorang Kepala Desa harus mempunyai modal dan financial atau pendanaan yang besar. Sehingga hal tersebutlah yang menjadikan dirinya pesimis bertarung melawan incumbent dalam Pilkades Desa Sriti.

Tetapi takdir berkata lain, suara rakyat adalah suara Tuhan. Masyarakat Desa Sriti bergotong royong untuk mengegolkan serta mendaftarkan Katmanto dalam Pilkades. “Jadi uang pendaftaran murni berasal dari urunan masyarakat,” katanya. Bahkan hari-hari menjelang Pilkades Desa Sriti, warga saling bergantian membawa gula, kopi bahkan rokok untuk tirakatan di rumah Katmanto yang hanya berukuran 5×7 meter tersebut.

“Niat kita hanya Bismillah bersama masyarakat Desa Sriti ingin melakukan perubahan demi suksesnya pembangunan serta kemajuan Desa Sriti,” paparnya. Para pemilih pun dengan sukarela dan ikhlas menggunakan hak pilihnya tanpa ada balasan atau ganti uang BBM dari Katmanto. “Intinya hanya kesadaran masyarakat Desa Sriti dalam menitipkan suara mencoblos nomor urut satu (nomor urut Katmanto) tersebut,” tambahnya.

Masyarakat pun saat akan menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) Pilkades yang berada di balai Desa Sriti rela berjalan kaki beberapa kilometer. “Sebenarnya dari Panitia Pilkades sudah menyediakan beberapa mobil angkutan pemilih, tetapi mereka (masyarakat) hanya ingin jalan kaki saja,” bebernya. Menurutnya, masyarakat mempunyai perasaan sama, senasib dan sepenanggungan. “Sehingga masyarakat memilih jalan kaki untuk sampai ke TPS Pilkades di Balai Desa Sriti,” urainya.

Sebagai kandidat, Katmanto rela menunggui masyarakat yang ingin menggunakan hak pilihnya. Sehingga saat dimulai acara pilkades hingga berakhirnya penghitungan suara, Katmanto tetap setia menungguinya.

Berdasarkan hasil resmi dari Panitia Pilkades Desa Sriti dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 2.860 orang, yang menggunakan hak pilih sebanyak 2.019 orang. Dari suara yang masuk, Nomor urut 1 atas nama Katmanto berhasil meraup 1.462 suara, Nomor urut 2 atas nama Muyono meraih 513 suara dan sebanyak 44 suara rusak atau tidak sah. Atas hasil tersebut, Katmanto secara resmi diusulkan sebagai Calon Kades Desa Sriti terpilih 2013-2019.

“Kami siap mengemban amanah ini dan kami juga berjanji apabila ke depan ada yang kurang pas di mata masyarakat, kami siap mengundurkan diri,” janji Katmanto dihadapan masyarakat yang jagong di rumahnya. (MUH NURCHOLIS)