Ngawi-kegiatan Acara Ritual tradisi Kirab Pusaka Kabupaten Ngawi yang digelar empat tahunan ini kembali menyedot anemo perhatian warga, bahkan ada yang datang dari kota terdekat seperti Madiun, Magetan dan Bojonegoro hanya untuk menjadi saksi kegiatan kirab yang dilakukan Kabupaten orek-orek ini. Kirab Pusaka dan Gunungan dimulai dari Balai Desa Ngawi Purba, Kecamatan Ngawi Kota dengan rute mulai Jalan Cepu, Sukowati, Yos Sudarso dan berakhir di Alun-Alun Merdeka Ngawi.

“Hanya satu kata betul-betul spetakuler mudah-mudahan acara seperti kirab pusaka dan gunungan ini terus digelar tetapi tentunya mendasar waktu yang telah ditentukan yakni empat tahun sekali. Untuk gunungan itu sendiri sesuai filosofinya sebagai sedekah bumi akan kemakmuran yang kita miliki dan dibagikan kepada warga,” ujar Kanang panggilan akrab Bupati Ngawi.
Sedangkan pusaka yang dikirab yang usianya sudah ratusan tahun meliputi dua Tombak Kyai Singkir dan Kyai Songgolangit selain itu Payung Tunggul Warono dan Tunggul Wulung. 
Prosesi kirab itu sendiri diawali Prajurit Bergoto sebanyak 160 orang dari Kraton Solo disusul para Senopati 6 orang masing-masing menunggang kuda serta Manggolo yudo 1 orang.
Untuk iring-iringan selain Bupati Ngawi Budi Sulistyono dan Wakilnya Ony Anwar , nampak juga para abdi dalem yang terdiri para kepala SKPD dengan menaiki kereta kuda.
Tidak ketinggalan para kepala Unsur Pimpinan Daerah (Unspinda) pun hadir mulai dengan menaiki kereta dokar mulai Ketua DPRD Ngawi Dwi Rianto Jatmiko dan Kapolres Ngawi AKBP Suryo Sudarmadi hingga Komandan Kodim 0805.
Sementara, ratusan warga melakukan tradisi rebutan gunungan setinggi dua meter yang berisi hasil bumi seperti makanan, sayuran dan buah. Warga meyakini bahwa makanan dan hasil bumi dalam Gunungan akan mendatangkan berkah dikemudian hari. 


Kegiatan hari jadi Ngawi tidak berhenti di kegiatan ini saja, masih banyak serangkaian pesta rakyat  yang bakal di suguhkan oleh panitia dalam memberikan hiburan kepada masyarakat Ngawi dari wayangan hingga pagelaran batik nasional. ARD