Pacitan – Anggota DPR RI asal Dapil VII Jawa Timur, Edhie Baskoro Yudhoyono atau akrab disapa Ibas merasa optimis kerajinan batik tulis khas Pacitan mampu menjadi salah satu sarana akselerasi pembangunan daerah karena faktor keunikannya dibanding batik tulis dari daerah-daerah lain di Indonesia.  “Salah satu motif khas batik tulis Pacitan adalah buah mengkudu dipadukan dengan motif daun-daunan.  Dan sekarang oleh perajin dikreasikan dalam motif-motif bercorak modern tanpa mengurangi identitas lokal Pacitan. Saya optimis inovasi kreatif dan unik ini akan terus menembus pasar ekspor bahkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal,” terang Ibas dalam kinjungan kerjanya di Kabupaten Pacitan, Rabu, 11/3/2015.

 

Ibas menilai industri kecil batik tulis Pacitan selama beberapa tahun terakhir terus berkembang menjadi sentra-sentra produksi unggulan daerah. Untuk itu, Ketua Fraksi FPD DPR RI ini berpendapat, besarnya peluang usaha tersebut harus terus dimanfaatkan melalui penciptaan kreatifitas perajin dalam mengembangkan motif modern yang selaras dengan kebutuhan pasar. “Untuk sukses menembus pasar memang dibutuh inovasi dan kretifitas baik dari segi motif maupun konsep warna. Jadi, motif parang, bledak, sidoluhur dan semacamnya perlu diselaraskan lagi dengan kebutuhan pasar yang terus dinamis,” terang Ibas.  

 

Menurut Ibas, motif-motif yang bernuansa Pacitan masih banyak yang bisa diekplorasi oleh para perajin. “Bisa saja mengadopsi motif Wayang Beber khas Kabupaten Pacitan  yang populer dengan rangkaian cerita dalam karya lukis wayang beber.  Motif bertema wayang jika dipadukan dengan warna-warna modern tentu bisa menarik bagi pasar,” tambah Ibas menjelaskan antara desain, pola, motif dan warna harus selaras agar hasil akhir seni batik tulis Pacitan semakin khas dan memiliki nilai pesona yang tinggi.

 

Untuk itu, Ibas berharap pemerintah terus memperluas kesempatan berusaha bagi masyarakat dengan memperbanyak penyaluran program permodalan dan pendampingan untuk membuka peluang pemasaran baik nasional maupun di pasar ekspor. “Campur tangan pemerintah akan terus dibutuhkan agar komunitas perajin dan pelaku usaha batik tulis di Pacitan terus terpacuh untuk berkarya. Saya contohkan kreasi batik Saji Pacitan yang akhir-akhir ini semakin dikenal dan mendapat banyak apresiasi karena keunikannya. Tentu ini perlu diwadahi pemerintah melalui program pemberdayaan agar menjadi sumber inspirasi bagi perajin-perajin batik tulis lainnya,” ujarnya anggota Komisi 10 DPR RI ini.

 

Ditambahkan Ibas, perhatian pemerintah bagi para perajin batik khas Pacitan juga bisa dalam bentuk apresiasi melalui ajang promosi dan pemberian penghargaan. Tahun 2005 motif batik khas Pace telah mengukir sejarah melalui Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai batik terpanjang yaitu 200 meter. Pada awal tahun 2011 Batik Tulis Pacitan dikukuhkan sebagai produk unggulan daerah pendekatan One Village One Product (OVOP). Saya kira penghargaan serupa perlu diperbanyak karena mampu mempromosikan keunggulan batik khas Pacitan di pasar domestik,” tutupnya.