Jakarta – Sekretaris Jenderal Partai Demokrat  Edhie Baskoro Yudhoyono menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam kepada Nazar, mohon maaf saya harus memberikan predikat ini; “Kembalinya “si manusia burung hitam” atas dugaan kasus yang dialami M. Nazaruddin dapat diselesaikan secara tuntas dan terang benderang. Menurut Ibas sapaan akrab Edhie Baskoro, tuduhan teror fitnah yang berbeda-beda dan berulang-ulang ini TIDAK BENAR dan mendasar, dirinya memahami beban mental yang dialami Nazaruddin dalam menghadapi proses hukum di KPK. Saya bisa memahami beban mental dan tekanan batin saudara Nazar yang sedang diungkap oleh KPK atas seluruh dugaan kasus yang melilitnya. Oleh karenanya, saya hanya bisa berharap, seluruh masalah yang sedang melilit bung Nazar bisa dituntaskan seadil-adilnya oleh KPK dan hukum bisa ditegakkan secara benar,” ujar Ibas di Jakarta.
Ibas mengakui dirinya tidak cukup bersabar tapi harus super sabar atas seluruh tudingan-tudingan yang dialamatkan Nazaruddin kepadanya  dan orang-orang lainnya serta berharap Nazaruddin bisa fokus atas kasusnya. “Alhamduliah, saya masih diberikan kesabaran dan terus berpikir positif atas semua tudingan bung Nazar, saya menyadari perlu super sabar dan menjaga ketenangan hati menghadapi dunia politik yang saya geluti ini. Harapannya, KPK dapat bekerja maksimal menuntaskan dugaan kasus yang dialami bung Nazar agar hukum bisa ditegakkan seadil-adilnya. Saya juga doakan, semoga bung Nazar diberikan pencerahan, fokus kepada kasus hukumnya dan bisa kembali ke jalan yang benar serta semakin kau melontarkan “terror fitnah” semakin pula kau menderita menembak dirimu sendiri, Bung…. Nauzubillah min zalik,” tutup Ibas.
Pada kesempatan lain, Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR, Didik Mukrianto, mengatakan bukan kali ini saja Nazaruddin berkicau dan menyebut nama Ibas. Menurut Didik, setiap ada kesempatan, Nazar selalu melemparkan tudingan itu. Didik mengatakan, partainya masih berpikir positif, tidak terlalu merespons kicauan Nazar itu. “Ini sudah menjadi tabiat dia. Buat saya sih sudah sampah,” kata Didik, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu 18 Maret 2015.
Kalau dikaitkan dengan posisi Ibas, baik fraksi maupun partai, lanjut Didik, putra bungsu Susilo Bambang Yudhoyono itu belum mendapatkan posisi apa-apa. Karena pada tahun 2009, Ibas hanya kader biasa saja. “Mas Ibas 2009 belum ketua fraksi, belum sekjen, kewenangannya tidak ada dalam konteks mengatur itu. Bahkan Mas Ibas ketika dikatakan soal Bali (korupsi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Khusus Pendidikan Infeksi dan Pariwisata di Universitas Udayana tahun anggaran 2009) segala macam itu, Mas Ibas komisi I, bukan komisi X. Apalagi sampai membagi-bagikan uang terkait angket pajak kepada orang-orang tertentu seperti yang disebutkan Nazaruddin ,” jelas Didik.