Jakarta – Ketua Fraksi Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono atau akrab disapa Ibas memberikan tanggapan ringan berkaitan dengan masalah ijazah palsu. Ibas memberikan komentar ” Hari gini ijazah palsu, apa kata dunia?”. Dalam kesempatan itu, Ibas sebelumnya menyampaikan selamat kepada mantan Presiden RI, Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang secara resmi menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Western Australia di Perth, Selasa (22/9/2015).  Penghargaan tersebut diberikan atas jasa SBY dalam berbagai isu dunia, dan juga penguatan hubungan Indonesia – Australia selama menjabat sebagai presiden RI ke-6. 

 
“Selamat kepada Pak SBY. Kami merasa bangga dengan beliau yang selalu menginspirasi dan memotivasi kami dengan sederetan prestasi. Sosok Pak SBY menunjukkan kualitas anak bangsa yang diakui dunia internasional. Ini adalah gelar doktor kehormatan ke-11 yang pernah diterima oleh Pak SBY, dan yang pertama diterimanya setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden Indonesia,” terang Ibas di Jakarta, Selasa, 23/9/2015.
Pada kesempatan yang sama, Ibas juga melanjutkan rasa prihatinnya terkait isu ijazah palsu yang mengemuka di publik akhir-akhir ini. “Tentu kami prihatin hari gini masih ada ijazah palsu di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh karenanya, kita mendukung Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menertibkan dan benar-benar memperhatikan kualitas, status dan pola mengajar lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Pemberian status akreditasi harus benar-benar dikontrol secara terus menerus,” ujar Ibas yang juga lulusan Curtin University, Perth, Australia ini.
Ditambahnya, pemerintah harus berperan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang siap bersaing secara global melalui peningkatan mutu pendidikan dalam negeri. “Kasus dugaan Ijazah palsu harus diusut tuntas dengan meningkatkan kordinasi dengan pihak kepolisian,” tambahnya.
 
Dengan kualitas SDM yang siap bersaing secara global, menurut Politisi muda peraih gelar Master of Science in International Political Economy di Universitas Teknologi Nanyang Singapura ini, Indonesia semakin mantap menyambut pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA yang akan berlaku pada akhir tahun ini. “Kita optimis, pembenahan dan pengawasan institusi pendidikan di Indonesia akan menjadi faktor pendorong kesiapan SDM Indonesia memiliki daya saing menghadapi MEA 2015,” tutup anggota Komisi 10 DPR RI yang membidangi pendidikan dan pendidikan tinggi.