Jakarta – Untuk mengenang jasa pahlawan nasional dalam membela dan berjuang untuk bangsa dan negara, Pemerintah Kabupaten Wonosobo meresmikan sejumlah patung pahlawan nasional sekaligus mengukuhan nama jalan baru.Sebanyak 15 patung pahlawan dan tokoh nasional sebagai nama jalan dan taman sekaligus simbol kedamaian. Sejumlah nama yang digunakan untuk nama jalan dan taman tersebut, antara lain Soekarno, Soeharto, KH Abdurrahman Wahid, Mohamad Hatta, Jenderal Soedirman, Letjen S Parman, Adam Malik, Sarwo Edhi Wibowo, Prof Sumitro Djojohadikoesoemo, Ibu Tien Soeharto, Soeparjo Rustam, HM Ismail dan tokoh lokal kaliber nasional, Tirto Utomo.
Salah satu patung dan nama jalan yang ikut diresmikan adalah almarhum Sarwo Edhi Wibowo. Rencana ini tertuang melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Wonosobo Nomor 9 Tahun 2014 tentang pemberian nama jalan. Cucu Sarwo Edhi Wibowo, Edhie Baskoro Yudhoyono atau aakrab disapa Ibas menyampaikan apresiasi atas upaya Pemerintah Wonosobo dalam mengenang jasa-jasa pahlawan tersebut. “Kita menyambut baik upaya tersebut karena sebagai anak bangsa harus selalu mengenang jasa-jasa perjuangan para pahlawan dalam membela dan berjuang untuk bangsa dan negara,” jelas Ibas di Jakarta.
Di mata Ketua Fraksi Partai Demokrat ini, sosok Sarwo Edhi Wibowo adalah seorang kakek yang menginspirasi keluarga dan menjadi teladan anak cucu untuk terus mengabdi untuk negara. “Almarhum Sarwo Edhie Wibowo merupakan sosok yang gigih, memiliki prinsip dan semangat hidup yang kuat dan tegas namun tetap menjadi sosok yang sederhana bagi keluarga dan masyarakat. Komitmen beliau untuk membela bangsa dan negara menjadi inspirasi bagi saya,” tambah wakil rakyat asal Dapil VII Jatim ini.
Sarwo Edhie Wibowo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925 adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia adalah ayah dari Kristiani Herrawati, mantan ibu negara Republik Indonesia dan istri mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia juga ayah dari mantan KSAD, Pramono Edhie Wibowo. Dalam perjalanan karirnya, Ia memiliki peran yang sangat besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September PKI dalam posisinya sebagai panglima RPKAD atau disebut Kopassus pada saat ini.
Usai sukses memimpin RPKAD menumpas mereka yang disebut kiri, Sarwo ditugasi memimpin Kodam I Bukit Barisan di Medan. Setelah itu ia pindah ke Papua ketika dijadikan Panglima Kodam XVII Cendrawasih.  Pulang dari Papua, Sarwo ditunjuk menjadi Gubernur Akabri (kini Akmil). Disebut memiliki jabatan yang tidak strategis, Sarwo Edhi Wibowo berpandangan lain seperti dikutip dalam buku Kepak Sayap Putri Prajurit yang ditulis Ibu Ani Yudhoyono. Ibu Ani menuturkan, ayahnya seperti mendapatkan pelabuhan jiwa dan tidak merasa dikucilkan meskipun tidak lagi dipercaya memimpin komando utama TNI AD dan justru bangga ditugaskan untuk mendidik calon pemimpin tentara menjadi Gubernur AKABRI. Selain itu ia pernah menjabat juga sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan. Sarwo Edhie Wibowo meninggal di Jakarta, 9 November 1989 pada umur 64 tahun.

 

Keterangan foto :

Keluarga besar  almarhum purnawirawan TNI Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, saat peresmian monumen Jenderal TNI Sarwo Edi Wibowo  di perempatan jalan Purworejo KM 57 Sapuran, Sabtu 10/10/2015 Pukul 11.45 WIB. Dok. http://tribratanewswonosobo.com