PONOROGO – Reformasi di dunia pendidikan akhir-akhir ini semakin kencang bergulir bagaikan bola salju yang tidak bisa ditahan. Hal ini menuntut usaha keras dari para tenaga pendidik untuk mempu berevolusi bahkan berevolusi guna mengejar dan beradaptasi dengan perubahan. Guru yang selama ini terlena dalam zona nyaman dan dunia yang “sepertinya” tidak memiliki tuntutan yang berat. Saat ini dan sebelumnya semua seolah berjalan dengan lambat. Terjadinya rutinitas ini seolah menjadi pembenaran terhadap stigma pendidikan Indonesia yang sering disebutkan mengalami stagnasi bahkan degradasi baik dalam mutu lulusan,  mutu pembelajaran, mutu pendidik, dan mutu sarana prasarana sekolah yang semakin menghawatirkan.

Salah satu isu yang hangat dalam trend tahun 2013 yang harus dilakukan oleh guru adalah program pengembangan diri yang dilakukan terus menerus. Harapannya setelah guru melakukan pengembangan diri diharapkan munculah yang namanya kreatifitas setiap guru dan memacu untuk menghasilkan karya-karya inovatif atau pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan yang tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi ditantang untuk berbagi pengalaman kepada yang lain baik dalam publikasi di forum ilmiah maupun di publikasikan dalam jurna-jurnal ilmiah dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Hal mendorong Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia  (IGTKI)  Kabupaten Ponorogo menyelenggarakan  Workshop Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) se-Kabupaten Ponorogo di Aula Gedung Bappeda Pemkab Ponorogo, Senin (18/3). Acara dibuka oleh Supeno selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo yang diikuti sekitar 200 orang kepala sekolah serta guru TK dari 21 Kecamatan se-Kabupaten Ponorogo.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Supeno berharap agar para peserta berusungguh-sungguh mengikuti workshop tersebut. “Karena Kini guru tidak lagi memiliki alasan untuk menghindar, karena ketentuan mengenai pengembangan diri sudah ditentukan dalam PERMEN PAN & RB No. 16 Tahun 2009,” kata Supeno.

Hal ini menurutnya sangat menarik karena sejauh ini guru-guru di Kabupaten Ponorogo seolah menenggelamkan diri dalam kepasrahan pada dunia ketidakmampuan untuk melakukan karya inovasi terutama dalam bentuk tulisan. Memang menarik untuk direnungkan, betapa guru yang dalam setiap aktivitas pembelajarannya selalu meminta peserta didik untuk menulis justru seolah kehilangan akal untuk menulis dalam bentuk karya ilmiah maupun dalam bentuk PTK. Kini guru harus bersiap-siap untuk mengingat dan melatih kembali keterampilan-keterampilan yang sudah lama terpendam oleh kesibukan dan motivasi yang hilang.

Untuk itu diperlukan usaha bersama dengan berada pada lingkungan atau forum-forum yang mendukung seperti MGMP atau forum ilmiah lain yang bisa membangkitkan kembali semangat untuk berkarya, semangat untuk melayani, dan semangat untuk memberikan yang terbaik kepada peserta didiknya.

“Kini Penilaian Kinerja Guru akan menentukan keberlangsungan karir guru itu sendiri. Tentu saja untuk melejitkan PKG diperlukan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan atau PKB yang benar-benar terukur sesuai dengan kebutuhan guru-guru di setiap unit kerja. Dampak positifnya adalah pelatihan yang akan diberikan atau tugas yang akan diberikan kepada guru harus sesuai dengan kebutuhan setiap individu guru itu sendiri,” paparnya.

Dia juga menyayangkan karena beberapa waktu lalu hanya ada 2 (dua) orang Guru TK se-Kabupaten Ponorogo yang lulus Uji Kompetisi Guru (UKG) dengan nilai 70. “Ini sangat ironis sekali, sehingga para guru juga harus selalu belajar dan belajar,” pintanya. Selain itu pihaknya juga meminta kepada para Guru TK untuk tidak hanya menyalahkan anak didiknya. “Kita harus selalu intropeksi diri,” tutupnya. (MUH NURCHOLIS)