NGAWI-Gizi buruk/KEP (Kurang Energi dan Protein) pada anak balita masih menjadi masalah utama meningkatnya angka kematian anak di Kabupaten Ngawi. 

Untuk itulah Dinas Kesehatan Ngawi bersinergi dengan RSUD Dr. Soeroto Ngawi untuk melakukan 10 kegiatan tuntas penanganan gizi buruk, lewat program “Restu Ibu” (Gerakan Tuntas Gizi Buruk) 2013.

Kesepuluh kegiatan tuntas penanganan gizi buruk tersebut adalah mencakup perawatan kelompok balita gizi buruk dan sangat buruk di RS. Dr. Soeroto Ngawi sekaligus pemulihan status gizi kelompok balita gizi buruk dan sangat kurus paska perawatan. “Kita juga melakukan kegiatan revitalisasi posyandu dan surveilence (pengamatan terus menerus) berbasis masyarakat, Pendampingan balita gizi buruk, Pelaksanaan pos gizi, Program bantuan keuangan desa untuk pengadaan induk ayam buras petelur pada keluarga dengan balita gizi buruk, Program “Orang Tua Asuh Balita Kurang Gizi”, Program “Peningkatan Ketahanan Pangan”, Sosialisasi dan advokasi, serta Monitoring dan evaluasi hasil kegiatan” ungkap Kadinkes Ngawi Dr. Puji Rusdiarto Adi. (7/3)

Lebih lanjut dikatakan, dari data yang ada Jumlah balita gizi kurang di Ngawi sebanyak 937. “Yang masuk kategori gizi buruk sebanyak 427, jumlah balita gizi buruk dan sangat kurus 68, jumlah balita gizi buruk dan sangat kurus dengan komplikasi sebanyak 14,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Ngawi Budi Sulistyono mengatakan, dalam penanganan gizi buruk tersebut pihaknya menggandeng para Satker, Camat, Kepala Desa , Dokter, Bidan, BUMD dan BUMN sebagai orang tua asuh anak balita gizi buruk. “Targetnya, pada tahun 2014 Ngawi harus tuntas penanganan gizi buruk ini. Hal ini untuk mendukung tercapainya kebijakan Millennium Depelopment Goals (MDGs) 2015 karena penanganan gizi buruk merupakan sub 1 dari MDGs”, ujarnya. (Ardian)