Pacitan-Bupati Pacitan Indartato menargetkan hasil ujian nasional (Unas) tahun pelajaran 2012-2013 menghasilkan lulusan yang berkualitas. Bukan hanya dari tingkat kelulusan namun juga prestasi siswa didik.

Penegasan itu disampaikan orang nomor satu di Pacitan itu saat melantik dan mengambil sumpah 283 panitia sub rayon, rayon sekolah penyelenggara dan pengawas ruang ujian nasional di pendopo kabupaten, (Selasa,2/4/13).

Saat ini terang bupati, prestasi kelulusan unas kabupaten Pacitan masih dibawah daerah lain di Jawa Timur. Dari data dinas pendidikan kelulusan SD Pacitan berada pada rangking 34 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Begitu juga dengan SMP dan SMK masih berada di rangking 32.

Prestasi membanggakan justru ditorehkan sekolah menengah atas (SMA) IPA. Dari 38 kabupaten/kota Pacitan berada pada sepuluh besar, yakni peringkat 8. Untuk mencapai prestasi tersebut terang bupati, bukan hanya menjadi tanggung jawab pendidik saja. namun juga adanya perhatian semua pihak. Mulai pengawasan orang tua di rumah dan lingkungan sekitar hingga tanggung jawab guru di sekolah.
Sementara itu kepala Dinas Pendidikan Pacitan Sugeng Basuki menyatakan, berbagai kesiapan sudah dilakukan jelang ujian nasional. Salah satunya dengan menggelar latihan mengerjakan soal atau Try out kepada siswa. Sementara itu untuk meningkatkan kompetensi guru, pihaknya intensif bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi.Khususnya guru yang membidangi mata pelajaran unas. Dengan upaya tersebut diharapkan hasil ujian nasional tahun ini lebih baik dari sebelumnya.
Diakui Sugeng, khusus untuk tingkat SLTA pelaksanaan try out sudah selesai. Meski hasilnya kurang memuaskan namun dengan waktu tersisa pihaknya yakin para siswa dapat memanfaatkan waktu untuk belajar lebih giat. Sedangkan untuk SD dan SLTP masih memiliki satu kesempatan menggelar pengayakan soal ujian .
Selain itu, saat pelaksanaan nantinya pihaknya akan memperketat pengawasan ujian nasional (UN) tingkat SD, SMP, maupun SMA, demi mendongkrak kualitas lulusan sekolah setempat maupun hasil ujian akhir siswa.

“Tidak hanya pengawasannya yang diperketat, aturan mainnya juga. Kalau sampai ada yang kepergok menyontek saja, kami bisa langsung diskualifikasi,” tegas Sugeng Basuki. Rabu (3/4/2013)

Sugeng mencontohkan beberapa tindakan yang berpotensi mendapatkan hukuman itu di antaranya, membawa ponsel atau telepon genggam, membuat gaduh, menyontek bagi siswa atau pengawas yang sengaja memberikan jawaban ke peserta.Ia mengkonfirmasi telah menyiapkan mekanisme sanksi, mulai hukuman ringan, sedang, sampai berat.Hukuman paling berat bagi siswa peserta UN adalah didiskualifikasi dari kepesertaan ujian, sehingga terancam tak lolos ujian.

Nantinya, secara keseluruhan akan ada sekitar 5.000 pengawas ujian yang akan bertugas. Baik sekolah dari lingkup Disdik maupun Kantor Kementerian Agama (Kemenag). (Frend Mashudi)