Ngawi- Sedikitnya 3 siswa SMP yang dinyatakan droup out atau mengundurkan diri saat pelaksanaan Ujian Nasional (UNAS ) berlangsung pada hari pertama Senin, (22/4). Tiga siswa tersebut merupakan pelajar SMPN 2 Paron yang tidak bisa mengikuti UNAS pada mata ujian Bahasa Indonesia.

Hary Supriono Kepala SMPN 2 Paron mengatakan, ketiga siswa ini menyatakan mundur mendasar surat pernyataan tertulis yang disampaikan ke sekolah oleh masing-masing orang tuanya setelah mengikuti try out khususnya MKKS yang dilaksanakan kurang dari satu bulan sebelumnya.

“Kita sudah melakukan pendekatan beberapa kali terhadap siswa yang bersangkutan demikian juga pihak orang tuanya agar mereka bisa masuk sekolah kembali dan mengikuti UNAS saat ini, namun para orangtua keberatan karena himpitan ekonomi” terang Hary Supriono.

Padahal aku Hary,  selama ada program BOS pihak sekolah yang dipimpinya tidak pernah menarik pungutan biaya yang membebani orang tua siswa maupun siswanya sendiri. “Kalau dikaitkan masalah ekonomi saya kira kok kurang pas,  padahal mereka untuk nilai sekolahnya sampai saat ini meski tidak masuk masih kita pertahankan dengan harapan mereka akan bisa mengikuti ujian nasional pada hari ini, pihak sekolah sebelum pelaksanaan ujian sudah melakukan segala upaya agar mereka bisa menyelesaikan sekolahnya disini,” jelas Hary Supriono.

Informasi mengejutkan muncul dari internal SMPN 2 Paron yang enggan disebut namanya. Menurut sumber tersebut, satu siswa perempuan dari tiga siswa yang mengundurkan diri itu justru sekarang ini berprofesi sebagai purel (penyanyi pendamping) disalah satu cafe karaoke yang ada di kota Ngawi. “Kasihan mereka itu mungkin karena faktor pergaulan akhirnya seperti itu,  padahal mereka masih dibawah umur dan seharusnya menuntaskan sekolahnya terlebih dahulu,” ungkap nara sumber tersebut. 

Mensikapi hal ini,  Siswanto anggota Komisi II DPRD Ngawi yang membidangi kesejahteraan rakyat angkat bicara. Menurutnya, kalau toh informasi yang dimaksud benar adanya bahwa ada salah satu siswi keluar sekolah dan lebih memilih bekerja di cafe karaoke maka apapun alasanya tidak dibenarkan.

“Jadi kalau siswi ini kan masih dibawah umur jelas belum layak bekerja apapun pekerjaanya itu seharusnya kalau ini benar informasinya maka pihak manajement cafe karaoke harus lebih selektif menerima calon tenaga kerjanya,” kata Siswanto.

Ditegaskan lagi, kalau keluarnya siswa dengan alasan ekonomi, sudah barang tentu ada solusi terbaik dari pihak sekolah setempat. “Kalau pihak sekolah sudah melakukan pendekatan beberapa kali dan hasilnya tetap saja maka prediksi saya kemungkinan adanya faktor sosial  lainya yang perlu dikaji misalkan karena faktor pergaulan,” tandasnya.

Sementara pada pelaksanaan UNAS untuk SMP sederajat yang dilaksanakan mulai hari senin 22 april 2013 sebanyak  11.670  siswa terdaftar sebagai peserta, terbagi dalam  116 lembaga sekolah SMP dan MTS  yang tersebar di 19 kecamatan .

Dari sejumlah itu, sedikitnya 20 siswa tidak  hadir diantaranya 17  mengundurkan diri, 1 orang berhalangan, dan 2 meninggal dunia. Ardian