PONOROGO – Bumi Reyog pada tahun 2012 ini selain mendapat Piala Adipura untuk yang kelima kalinya dalam katagori kota kecil, juga patut berbangga. Karena SMK Negeri 1 Jenangan Ponorogo ternyata mempersembahkan Piala Adiwiyata. Berbagai penilaian dilakukan sebelumnya oleh Tim Visitasi Sekolah Adiwiyata Tingkat Propinsi Jawa Timur dan Nasional langsung ke SMK Negeri 1 Jenangan. Rombongan ini melakukan verifikasi lapangan tentang sejauhmana pelaksanaan kegiatan ramah lingkungan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di SMK Negeri 1 Jenangan.

 

Lomba sekolah Adiwiyata ini diikuti banyak sekolah yang terdiri dari berbagai jenjang tingkatan pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan. “Pemerintah memberikan penghargaan Adiwiyata, menunjukkan bahwa sekolah telah berhasil mendidik siswa menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup,” kata . Kepala SMK Negeri 1 Ponorogo, Drs. Nurdiyanto, M.Pd. Penghargaan Adiwiyata bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan melalui lembaga pendidikan formal mulai sekolah dasar hingga sekolah lanjutan se Indonesia. Kriteria seleksi didasarkan pada 4 kriteria yang meliputi pengembangan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan, pengembangan kurikulum berbasis linkungan, pengembangan kegiatan berbasis partisipatif, serta pengelolaan dan atau pengembangan sarana pendukung sekolah.

 

“Program Adiwiyata ini bertujuan untuk menciptakan kondisi yang baik dan sehat bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran serta penyadaran warga sekolah (guru, siswa dan karyawan), sehingga upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan dapat berkesinambungan,” imbuhnya.

 

Dalam rangka mensukseskan program adiwiyata ini, seluruh warga SMK Negeri 1 Jenangan berkomitmen penuh untuk mencapainya. Berbagai upaya persiapan jauh-jauh hari sudah dilakukan seluruh warga SMK Negeri 1 Jenangan, mulai pembersihan sarana pendukung kegiatan belajar, pembuatan produk ramah lingkungan dan kegiatan administratif lainnya mengingat program ini tidak bisa dibuat secara instan.

 

Dan terbukti, Rabu (5/6) Pemerintah RI melalui Kementerian Lingkungan Hidup memberikan Piala Adiwiyata kepada SMK Negeri 1 Jenangan yang diterima langsung oleh Kepala SMK Negeri 1 Ponorogo, Drs. Nurdiyanto, M.Pd dari Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA.

 

Menurut Kepala SMK Negeri 1 Ponorogo, Drs. Nurdiyanto, M.Pd penghargaan Piala Adiwiyata yang diraih SMK Negeri 1 Jenangan adalah hasil keras semua pihak (guru, siswa dan karyawan).  “Jadi tanpa kerjasama semua pihak susah Piala Adiwiyata diraih,” paparnya. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak di SMK Negeri 1 Jenangan yang terus berjuang bersama-sama menjaga kebersihan , keindahan serta kebersamaan di SMK Negeri 1 Jenangan.

 

Pihak sekolah menurut Kepala SMK Negeri 1 Ponorogo, Drs. Nurdiyanto, M.Pd  selalu melakukan berbagai terobosan dalam hal kelestarian dan kebersihan lingkungan sekolah, diantaranya membangun Kantin Sehat, Pengelolaan sampah disekolah, Bank Sampah, lubang biopori dan kegiatan Sabtu Bersih sebagai kegiatan bakti sosial.

 

“Kantin sekolah bukan hanya sekedar warung yang menyediakan kebutuhan makan dan minum siswa semata, Kantin sekolah bisa sebagai media mendidik siswa dalam hal kesehatan, kebersihan, disiplin dan juga kejujuran,” tegasnya.

 

Kantin sekolah yang sehat harus menyediakan menu yang bergisi dan higienis, serta infrastruktur lingkungan yang bersih. Hal yang tidak boleh diabaikan adalah proses pelayanan dalam transaksi. Kebiasaan bertransaksi dengan menggunakan uang langsung yang terjadi antara konsumen dan penjual ini hal yang harus dihindari, karena ini hal yang tidak sehat. Hal ini bisa digantikan dengan menggunakan kupon, dan menempatkan kasir sebagai media transaksinya. Dengan sistem transaksi ini jauh lebih higienis dan aman bagi kesehatan.

 

“Pembuatan tempat sampah yang terpisah akan memudahkan pemilahan secara otmatis sebelum ke pengolahan, hal ini juga sekaligus mendidik warga lingkungan sekolah untuk tertib dan disiplin. Tempat sampah dipisahkan menjadi kelompok sampah organik plastik dan kertas, dan metal dan kaca,” bebernya.

 

Pengolahan sampah menerapkan konsep 3R yaitu Reuse (penggunaan kembali), Reduce (pengurangan),Recycle (daur ulang). Sampah yang diproses dalam lingkup sekolah hanya kelompok organik, selain mudah dalam pengolahanya juga harus cepat karena sampah organik beresiko mengakibatkan gangguan kesehatan bila tidak segera diproses.Sampah organik diproses menjadi pupuk kompos, pupuk ini digunakan untuk mengelola tanaman yang ada di lingkungan sekolah, sebagian lagi dijual lewat koperasi sekolah.

 

“Guna mendukung kegiatan pengelolaan sampah ini maka pihak sekolah menerapkan adanya sistem bank sampah. Sistem ini selain mendukung kebersihan lingkungan juga mendidik siswa berwirausaha,” terangnya.

 

Sedangkan Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir.

“Kegiatan rutin setiap hari sabtu dalam rangka membersihkan lingkungan sekolah dengan melibatkan siswa kelas sepuluh secara bergantian, selain dalam lingkup sekolah,” Jlentrehnya. 

 

(MUH NURCHOLIS)