Pacitan-Pemerintah kabupaten Pacitan berencana membangun taman laut. Upaya ini dilakukan untuk mengoptimalkan sektor pariwisata sebagai salah satu pengerak pendapatan asli daerah (PAD). Jika terwujud, diharapkan kehadirannya dapat berpengaruh signifikan pada dua sektor itu sekaligus.

“Kami masih akan mengumpulkan data-data pendukungnya,” kata praktisi wisata alternatif asal Bali, Agung Prana di sela-sela menemani kunjungan beberapa pejabat Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP), Minggu (5/5).

Pengumpulan data meliputi kondisi laut dan kondisi perairan, batu karang, jenis ikan, maupun kesiapan masyarakat menerima dan mendukung rencana tersebut. Sebab, tanpa peran dan pemberdayaan masyarakat sekitar rencana itu mustahil terwujud. Pembangunan taman laut itu sendiri menggunakan konsep bio rock technology untuk restorasi terumbu karang.

Agung mengakui, meski hanya sekilas, dia mengakui jika kota kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mempunyai keunggulan dibanding dengan daerah-daerah lain. Seperti bergunung-gunung dengan pemandangan indah. Hanya saja, ada satu kendala yang harus dihadapi. Yakni lokasinya yang terpencil. Bahkan Agung optimistis masalah itu bisa diatasi dengan peran serta masyarakat. “(Taman laut, Red) Terwujud. Tinggal peran serta masyarakat sehingga mereka dapat merasakan manfaatnya,” kata dia.

Manfaat yang dimaksud Agung adalah potensi wisata dan perikanan. Dengan demikian inisiatif untuk menjaga dan melindunginya akan tumbuh. Dia lantas mencontohkan masyarakat dari beberapa desa di Bali. Awalnya mereka juga kurang mendukung. Tetapi setelah dilakukan pendekatan melalui budaya dan agama, lambat laun sikap warga berubah.

Dan hal serupa tampaknya juga cocok dilakukan pada warga Kabupaten Pacitan. Pertimbangannya karena banyak lokasi wisata pantai yang masih dianggap sakral oleh warga. “Setiap pertemuan warga saya lakukan di Pura. Setiap sore saya ikut Mesanti. Dengan demikian ini memang tidak main-main. Ini salah satu contoh pendekatannya. Selain memang harus ada satu orang yang total peduli,” katanya.

Disinggung tentang kondisi pantai yang merupakan bagian Samudra Indonesia dengan karakteristik ombak maupun gelombang besar, Agung yakin tidak menjadi masalah. Sebab, hambatan semacam itu terjadi pada kawasan laut dalam. Sedangkan untuk lokasi taman laut hanya berjarak 10 meter sampai 50 meter dari pantai.

Agung yakin jika taman laut berdiri, kawasan sekitar akan lebih dinamis. Apabila pengunjung berdatangan, dengan sendirinya sektor jasa penginapan akan mengikuti. Sampai sekarang sejumlah daerah di Indonesia telah mengembangkan taman laut dengan konsep serupa. Seperti di Bali, Lombok, Banyuwangi (Jatim), Pulau Karimun Jawa, dan Aceh. Frend Mashudi