BOGOR-Tahun 2019 ini Begitu banyak momen pilu yang dialami presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadikan dirinya banyak merenung, gagasan nya untuk Indonesia agar makin maju dan sejahtera juga mencuri perhatian banyak orang, banyak yang menanti pidatonya. Bertepatan dengan 100 hari Wafatnya Ibu Ani yudhoyono dan hari jadi partai Demokrat ke-18, SBY juga merayakan Ulang tahun ke-70, Senin (9/9/2019).

Kontemplasi artinya merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian. Jadi, pidato kontemplasi SBY adalah pidato hasil perenungannya membaca situasi terkini bangsa Indonesia. “Saya sungguh berniat dan memohon kepada Tuhan, Allah SWT, agar hari esok dan kedepannya lagi, kita bisa melakukan sesuatu yang bermakna dan bisa berbuat yang lebih baik. Baik sebagai umat hamba Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, maupun sebagai warga bangsa Indonesia tercinta, bahkan warga dunia yang mendambakan dunianya makin baik di masa depan,” Ucapnya dalam pidato bertajuk ‘Kontemplasi’ di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Pengalaman berjuta rasa dialami oleh Sang Jendral, namun ia menjadikan segenap pengalaman batin ini sebagai saranan dirinya terus mendekat kepada Sang Khalik. “Lewat tengah malam, memasuki hari baru 9 September 2019 ini, saya terbangun dari tidur. Saya yakin, hal itu bukan hanya kebetulan. Tetapi, Sang Pencipta mengingatkan saya bahwa usia saya genap 70 tahun. Karenanya, saya sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, atas segala karunia yang diberikan kepada saya,” ujarnya.

Dalam rasa harunya bertambah usia, SBY kerap mengingat rasa kehilangan yang begitu menyayat hatinya, namun ia terus bersyukur kepada Sang Pencipta kehidupan.”Betapa Maha Pengasih dan Maha PemurahNya Tuhan Sang Pencipta. Namun, segera saya sadari, rasa syukur dan bahagia tersebut berbarengan pula dengan rasa haru dan duka,” lanjut dia.

Ulangtahun ke-70 nya kali ini menjadi hal yang berbeda, sebab biasanya sang Istri tercinta Almarhumah Ibu Ani Yudhoyono tak ada disisinya mengucap lembut ditelinganya.” Rasa duka yang lain ini adalah hari ulang tahun yang pertama, yang di tengah malam yang hening, tak ada lagi yang memeluk saya, seraya membisikkan kata-kata yang indah Selamat Ulang Tahun, Pepo. Happy Birthday, panjang usia, bahagia dan sukses selalu, Karena, orang yang setiap tahun melakukan itu, isteri tercinta, 100 hari yang lalu juga telah berpulang ke Rahmatullah

Meskipun, isteri tercinta Ani Yudhoyono, akan selalu berada dihati saya. Menyatu dengan memori indah, yang kami bangun selama 43 tahun bersamanya,” ucap kakek dari empat cucu ini.

Dalam kesedihan yang di alaminya tak lantas membuat SBY berhenti memberi gagsan bagi bangsa dan negara, menurutnya ia bercita-cita ingin Indonesia menjadi negara yang sejahtera dan memiliki masyarakat yang baik. “Masyarakat seperti apa yang kita inginkan?. Jawabannya, pastilah kita ingin memiliki dan menjadi masyarakat yang baik, A Good Society . Demikian juga kalau kita lanjutkan, bangsa dan negara seperti apa yang kita tuju dan kita bangun, jawabannya akan serupa  A Good Nation, A Good Country,” tukasnya.

Menurut SBY, Indonesia dengan perjalanan sejarahnya harus semakin memperkuat persatuan dalam kemajemukannya, untuk itu sudah selayaknya nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat harus disebarluaskan agar Indonesia menjadi negara yang baik dengan masyarakatnya yang juga baik.” Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti apa yang sepatutnya kita anut dan jalankan, agar masyarakat kita menjadi “the good society”, dan agar pada gilirannya, Indonesia menjadi “the good country”. Yang ingin saya kedepankan ini adalah pandangan dan pendapat saya, berangkat dari pengamatan dan pengalaman yang panjang. Tentulah, hadirin bisa bersetuju atau tidak. Kita tahu, masyarakat dan bangsa Indonesia amat majemuk. Majemuk dari segi identitas, misalnya berbeda agama, suku, etnis dan kedaerahan. Juga mejemuk dari segi paham dan aliran, baik politik maupun ideologi, serta dari segi strata sosial-ekonomi,” paparnya.

Membangun bangsa menurut SBY bisa disamakan juga dalam membangun keluarga.” Pertama adalah kasih sayang (love) di antara kita, dan bukan kebencian (hatred), rasa persaudaraan (brotherhood) yang kuat di antara kita sesama bangsa Indonesia,dan bukan membangun jarak dan permusuhan (hostility) diantara masyarakat yang berbeda identitas,” ujar dia.

Konsep perilaku hidup, menurut SBY juga bisa diterapkan dalam pembangunan berbagai sektor. “Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti itulah, yang menurut pandangan dan pendapat saya mesti dibangun dan dimekarkan di negeri ini. Jika sungguh kita lakukan, insya Allah, kita akan benar-benar bisa menghadirkan Masyarakat yang baik, Ekonomi yang baik dan Politik yang baik,” pungkasnya.