MAGETAN – Permasalahan sampah di penghujung tahun 2019 di Magetan menjadi sorotan fraksi Demokrat. Hari ini, di ruang sidang paripurna DPRD Magetan, fraksi Demokrat menggelar sosialisasi perda kabupaten Magetan nomor 6 tahun 2013 tentang pengelolaan sampah.

Dengan mengundang pegiat sampah magetan, Dinas lingkungan hidup, dinas perindustrian dan perdagangan dan dinas pariwisata.

Inisiator kegiatan, fraksi demokrat, diwakili wakil ketua Dewannya, Pangayoman mengatakan, permasalahan sampah sudah mendunia, Magetan salah satunya memerlukan penanganan bersama, bukan saja pemangku jabatan, namun dimulai dari rumah tangga. Diperlukan sosialisasi terus menerus agar sampai ke bawah.

“Perda di sosialisasikan agar pelaksanaan pengelolaan sampah di magetan lebih terintegrasi, tersistem dan berkelanjutan sesuai dengan tujuan perda,” terangnya.(19/12)

Untuk melihat keberhasilan sebuah kota/kabupaten dalam penanganan sampah bukan dilihat dari kondisi lingkungan pemerintahannya saja yang nampak bersih.

“Kota yang bersih tetapi TPA cepat penuh berarti ada yang keliru dengan pengelolaan sampahnya,”tambahnya.

Ditambahkannya, yang menjadi tolok ukur pengelolaan sampah berhasil salah satunya adalah lingkungan jadi sehat, mengelola sampah memiliki manfaat ekonomi dan tumbuhnya kesadaran masyarakat di dalam mengurangi dan menangani sampah.

Di tegaskan pangayoman, perda tentang pengelolaan sampah ini salah satu usulan inisiatif DPRD. “Biasanya kalau dari DPRD jarang di sosialisasikan, ini kelemahannya, di daerah lain blm tentu ada perda ini,” tegas wakil ketua Demokrat ini.

Di akhir paparannya, pangayoman menegaskan agar Pemerintah daerah wajib menyebar luaskan perda, sesuai aturan bagi yg mengindahkan akan di kenai sanksi tertulis, jika masih belum ada progres akan kena sanksi berupa mengikuti pembinaan khusus dari kemendagri.

Diketahui, dari data lingkungan hidup seperti yang disampaikan Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup magetan,Sampah di magetan, rumusnya jumlah penduduk kali 0,4, jadi di Magetan menghasilkan 280 ton perhari.

“Yang mampu kita lakukan baru sekian persen, di TPA tiap hari baru sekitar 30- 35 ton, yang besar itu ada sebagian di bakar,dibuang ke sungai dan lain-lain,” tegasnya. (Choiri)