PACITAN – Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Penyuluhan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) ‎Kabupaten Pacitan, Bagianto mengakui bahwa alokasi pupuk bersubsidi Tahun 2016 memang belum memenuhi permintaan petani. Namun demikian merunut data luas tanam di Pacitan, alokasi pupuk tersebut dinilainya sudah sangat proporsional.
“Tahun ini alokasi pupuk kita hanya sekitar 26 ribu hingga 29 ribu ton. Sedangkan permintaan petani sekitar 51 ribu ton. Sehingga benar, kalau alokasinya hanya terpenuhi 50 persen. Akan tetapi alokasi tersebut sejatinya sudah proporsional dengan luas tanam yang ada,” ujarnya kepada wartawan, baru-baru ini.
Menurut Bagianto, dari alokasi sekitar 26 ribu ton pupuk bersubsidi‎ tersebut diantaranya, urea sebanyak 9.498 ton, SP36 sebanyak 2.188 ton, ZA sebanyak 1.335 ton, MPK sebanyak 6.942 ton, dan pupuk organik sebanyak 6.008 ton. “Dari data komposisi alokasi pupuk tersebut, sudah sangat proporsional dengan luas tanam di Pacitan,” tandasnya.
Lebih lanjut, Bagianto mengungkapkan, menurut ketentuan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), memang semua komoditas tanaman, boleh diberikan pupuk bersubsidi. Kecuali tanaman kayu-kayuan.
Akan tetapi, Bagianto menyampaikan bahwa pemerintah memang lebih memprioritaskan pada tanaman Pajale (padi, jagung dan kedelai). Fakta dilapangan, dalam mengajukan rencana devinitif kebutuhan kelompok (RDKK), komoditas pajale yang dijadikan acuan petani dalam mengajukan permintaan pupuk.
Namun demikian, pada impelementasinya, tak sedikit pupuk bersubsidi yang dipergunakan untuk komoditas lain. Bahkan parahnya lagi, juga banyak alokasi pupuk bersubsidi yang oleh petani dipergunakan memupuk tanaman kayu-kayuan, seperti halnya tanaman sengon misalnya.
“Jadi jangan hanya instansi kami yang terus disudutkan. Fakta dilapangan seperti itu. Tak sedikit pupuk subsidi yang oleh petani tidak dipergunakan memupuk tanaman pajale, namun untuk komoditas lain. Ada juga yang untuk memupuk tanaman kayu-kayuan. Kalau sudah seperti itu, wajar kalau petani terus berteriak, alokasi pupuk selalu kurang. Namun mereka sendiri slintutan seperti itu,” bebernya.
Sementara itu, menurut data di Distanak, luas tanam pajale di Pacitan‎ tercatat sebesar 36 ribu hingga 39 ribu hektar. Dengan luasan tersebut, alokasi pupuk yang ada sebenarnya sudah cukup proporsional. (frend)