Ngawi- Hujan deras yang mengguyur wilayah Ngawi dalam dua hari terakhir menyebabkan dua sungai besar  yakni Bengawan Solo dan Sungai Madiun meluap.

 

Akibatnya belasan desa yang ada di tujuh kecamatan pada Senin dini hari, (8/4), sekitar pukul 04.00 WIB langsung terendam banjir setinggi satu meter. Lima kecamatan tersebut antara lain Pangkur, Kwadungan, Padas, Geneng, Mantingan, Pitu dan Ngawi Kota.

 

Pantauan terakhir edhiebaskoro.com dari lokasi,  ratusan warga terlihat mulai mengungsikan harta bendanya termasuk hewan ternak berupa sapi ke tempat yang sekiranya aman.

 

Seperti yang terjadi di tiga di  wilayah Kecamatan Geneng seperti Kersikan, Kasreman dan Dempel. Ditempat ini,  para warga terlihat berupaya menerjang luapan air dengan membawa hewan ternak mereka. Pemandangan serupa juga terjadi di beberapa desa lainya diwilayah Kecamatan Pangkur dan Kwadungan seperti Simo, Sumengko, Purwosari, Dinden dan Tirak.

 

“Luapan air datangnya secara tiba-tiba terjadi  habis subuh tadi sehingga kita yang ada di lingkungan sini pada kalang kabut,” ujar Sukadi salah satu warga Desa Kersikan, Kecamatan Geneng.

 

Tragisnya lagi , banjir kali ini hampir saja menelan korban jiwa,  seperti yang dialami  Joko Sancoyo (50) warga Desa Grasak, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Korban yang merupakan karyawan KSP Bangun Jaya Gendingan Widodaren tengah mengendarai motornya hendak ke Kwadungan. Naas,saat melintas di Desa Kersikan, Kecamatan Geneng, korban terjebak banjir hingga sepeda motornya terseret derasnya arus setinggi pinggang orang dewasa hingga beberapa meter. Akibat derasnya terjangan air Joko Sancoyo saat itu langsung pingsan karena tidak bisa berenang. Untung  ada warga yang mengetahui peristiwa ini  kemudian korban berhasil diselamatkan akan tetapi sepeda motornya baru bisa dievakuasi satu jam kemudian. “Pas sampai ditengah jalan desa itu mendadak arusnya deras banget sehingga saya jatuh dan terseret,” terang Joko Sancoyo setelah mendapatkan perawatan medis di bidan desa setempat. 

 

Dari  data BPBD Ngawi pihaknya sudah menerjunkan puluhan personel dengan puluhan perahu karet yang sudah dipersiapkan sebelumnya. “Mulai kemarin kita sudah mulai siaga di lokasi rawan banjir dan yang terpantau hingga saat ini sekitar 14 desa yang terendam,” kata Eko Heru Tjahjono Kepala BPBD Ngawi.

Diakui Heru, saat ini di kedua sungai besar tersebut sudah berstatus siaga I karena debit air sudah mencapai diatas 7,5 meter. Jelasnya lagi, tingkat kewaspadaan yang dilakukanya bisa saja berubah terlebih debit air makin terus meningkat hingga pukul 14.00 WIB pada Senin siang, (8/4).

 

Selain itu kondisi banjir yang merendam pemukiman diwilayah Ngawi selatan khususnya diakibatkan diwilayah hulu Sungai Madiun seperti daerah Ponorogo dan Madiun sebagian saat ini terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

 

Heru menegaskan  kepada warga yang ada di daerah rawan banjir harus mewaspadai kondisi sekitarnya. “Tingkat kewaspadaan ancaman banjir makin meluas, ditambah informasi dari BMKG Juanda yang menyebukan kalau di wilayah Ngawi dan sekitarnya dalam pekan ini akan diguyur hujan deras, masyarakat harus siaga dan dan selalu waspada,” ingatnya. (Ardian)