Ngawi- Demam batu akik sedang melanda Indonesia. Banyak orang berpendapat bahwa mengoleksi batu akik sama dengan melakukan investasi. Di sisi lain, ada prediksi bahwa tren batu akik bisa bernasib sama dengan tren bunga adenium atau anthurium yang kini sudah redup. Jadikan pertimbangan ini untuk berpikir ulang jika kamu ingin mengoleksi batu akik.

Batu akik memiliki nilai yang subyektif. Hal ini disebabkan banyaknya motif batu akik di Indonesia dari berbagai daerah yang membuat harga jualnya tidak sama. Hal ini pula yang membuat satu motif unggulan bisa memiliki harga yang mahal di satu daerah, namun belum tentu di daerah lain. Artinya, nilai batu akik tergantung ketertarikan orang di daerah tertentu dan hal ini membuat harga batu akik tidak stabil. Mendasar menjawab kehausan warga Ngawi akan batu akik pemkab Ngawi menggelar Ajang pameran dan kontes batu akik yang bertajuk “Pameran Batu Akik Nusantara” yang bertempat di Gedung Eko Kapti Kab.Ngawi, dibuka secara resmi oleh Bupati Ngawi Budi Sulistyono, pada senin 27 juli 2015 dan bertepatan dengan hari  jadi Kab.Ngawi  ke-657 tahun. Pembukaan pameran yang akan berlangsung selama 3 hari dimulai dari tanggal 27 hingga 30 juli 2015, pembukaan pameran dan kontes batu akik tahun 2015 itu ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati.

Sebanyak 52 peserta yang mendaftar pada kegiatan ini untuk berlomba memperlihatkan keindahan batu mulia yang mereka miliki. Rangkaian acara ini juga meliputi bidang dan keahlian seperti pameran batu akik, kontes batu lokal, Kontes umum, dan lomba mengasah batu. Ucap ketua Panitia penyelenggaraan batu akik.

Dalam sambutannya Bupati mengatakan, Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi mendukung terselenggaranya acara ini. Dengan adanya kegiatan ini merupakan upaya menyatukan pengrajin batu akik, pengguna batu akik, dan sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang sumber daya alam yang ada di Kabupaten Ngawi ini, seperti batu akik yang memiliki nilai jual yang tinggi,” kata Bupati. Kanang (sapaan akrab Bupati) menambahkan, acara ini tentunya berdampak pada peningkatan ekonomi pengrajin batu akik, penambang batu, dan pedagang batu cincin itu sendiri.

Diantara puluhan peserta pameran mata ini tidak lepas dari sosok yang tak asing bagi tim EBY pasalnya koordinator Daerah Pemilihan VII Edhie Baskhoro Yudhoyono ikut pula menjadi salah satu peserta pameran Yohannes Adi Candra. “Potensi batu akik khas lokal Ngawi sangat bagus dan sering dicari-cari penggemar batu akik dari luar maupun dalam daerah,” ungkap Candra salah satu kolektor dan penjual batu mulia di kabupaten Ngawi.

Candra demikian panggilan akrab di koleganya menjelaskan selain melihat corak batu yang beragam para pembelipun wajib di sodorkan dengan keistimewaan batu itu sendiri sepertihalnya asli dari lokal Ngawi dan memiliki kekerasan yang cukup tinggi di bandingkan batu lainnya.” Batu mulia asal Ngawi sangat dominan dicari oleh para pengunjung  pameran pasalnya bacan dan black jet dari luar daerah sudah sepi peminat” tegasnya.

Penggemar batu akik khas Ngawi berasal dari berbagai kalangan, mulai pejabat dan pengusaha bahkan wanita hingga anak-anak. Ia menambahkan “booming” batu akik yang saat ini terjadi di beberapa daerah dan menjadi perhatian masyarakat banyak harus mampu dimanfaatkan untuk bisa menjadi salah satu sarana mengenalkan potensi daerah dan menjadi ikon daerah.”Jangan sampai popularitas batu akik hanya sementara. Batu akik harus tetap dipertahankan dengan mengembangkan serta mempromosikan batu akik asli dari daerah lokal,” ujarnya.

kolektor batu yang sudah malang melintang di berbagai daerah bahkan menyusuri bekas proyek galian C di setiap sudut kabupaten Jawa – Bali  hanya untuk  mendapatkan batu mulia. Mengaku bangga dengan batu mulia asal Ngawi pasalnya batu mulia jenis calsedon dan Jesper dapat menyabet juara 2. “ Walaupun tidak mendapatkan peringkat pertama namun pihaknya senang dan bangga batu mulia lokal Ngawi bersaing ketat dengan batu luar daerah terbukti dalam perlombaan pameran ini” jelasnya. ARD