Magetan- Saat ini terjadi kelangkaan kulit sapi di pasaran sehingga berimbas pada kegiatan usaha anggota APKI (Asosiasi Pengusaha Kulit Indonesia) dan APRISINDO (Asosiasi Persepatuan Indonesia). Hal tersebut diungkapkan  Ali Mas’ud, S.H Sekretaris Aprisindo Provinsi Jawa Timur ketika berbicara dalam Temu Usaha IKM Alas Kaki dengan IKM Penyamakan Kulit di Hotel Imelda Magetan(Kamis, 25 April 2013).

Menurut Ali, Di Jawa Timur industri penyamakan kulit menyebar di Kota Madiun (1 perusahaan), Kabupaten Madiun (1), Magetan dan Ponorogo (125), Kota Malang (3), Sidoarjo (5), Pasuruan (2), Sampang (1), dan Probolinggo (1).

Sedangkan dari data persebaran sentra industri alas kaki yang ada di Magetan, 2 sentra (60 unit usaha), Kota Mojokerto 32 sentra (562), Jombang 2 sentra (12), Kabupaten Malang 1 sentra (18), Kabupaten Mojokerto 14 sentra (773), Banyuwangi 1 sentra (2), Bangkalan 1 sentra (21), dan Sidoarjo 5 sentra (181).

Kemudian Persebaran IKM Alas Kaki ada di Magetan (27 IKM), Ponorogo (1), Kabupaten Mojokerto (29), Kota Mojokerto (83), Pasuruan (27), Bangkalan (1), Tulungagung (1), Kota Kediri (1), Lamongan (3), Nganjuk (1), Surabaya (3), Kota Malang (3), Jombang (2), dan Sidoarjo (518).

Sedang persebaran perusahaan besar industri Alas Kaki ada di Kota Surabaya (9 unit usaha), Sidoarjo (14), Mojokerto (7), Malang (3), Jombang (7), Gresik (3), dan Pasuruan (9).

Melihat potensi dan keberadaan industri alas kaki dan penyamakan kulit yang begitu ‘luar biasa’ ini Ali menyarankan agar mereka  ‘kompak’ dengan menjalin pola kemitraan.

Ditambahkan Ali, Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 kemitraan adalah kerjasama usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau dengan Usaha Besar memperkuat dan saling menguntungkan disertai pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah dan Usaha Besar dengan memperlihatkan prinsip saling memerlukan, saling menguntungkan.

Sedangkan Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang dimaksud dengan kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha baik langsung maupun tidak langsung atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat dan menguntungkan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah dengan usaha besar.

Dengan kemitraan ini diharapkan akan terjadi efisiensi karena adanya pengurangan biaya produksi, umum, dan pemasaran dengan melalui : pemakaian aset secara bersama, kartel distribusi produk, pemenuhan skala ekonomi, dan pembentukan klaster bisnis.

Efisiensi industri Alas Kaki melalui kemitraan dapat dicapai dengan : pembelian bahan baku secara bersama untuk mendapatkan quantity discount, pemakaian alat transportasi secara bersama, sharing hasil R & D untuk meningkatkan daya saing dengan cost minimal.

Disamping itu, efisiensi dicapai melalui : sharing penggunaan teknologi proses dengan prinsip spesialisasi contoh industri kerajinan sepatu spesialis upper bermitra dengan spesialis sol. Asas yang digunakan adalah penurunan biaya karena fixed cost yang juga menurun. Sharing penggunaan tenaga kerja yang memiliki keahlian tinggi.

Di pasaran, efisiensi industri Alas Kaki dengan kemitraan terjadi melalui : segmentasi pasar yang berbeda antar pelaku usaha kerajinan sepatu yang dapat mendorong penggunaan fasilitas untuk menjangkau pasar secara bersama, terbentuknya trading house sebagai wujud kerjasama dalam pemasaran, kantor pemasaran bersama untuk mengurangi biaya pemasaran untuk menggarap pasar luar negeri.

Namun, masih menurut Ali, dalam kenyataan di lapangan tidaklah mudah menjalin pola kemitraan. Apa hambatan dalam bermitra ? Hambatan yang sering ditemui yaitu : sulit menemukan titik yang mengharuskan kerjasama sebab yang muncul adalah persaingan, tidak ada katalisator dalam meningkatkan kerjasama, lokasi industri yang berjauhan sehingga sulit bermitra dalam input dan proses produksi, perbedaan skala usaha antar pelaku di usaha persepatuan yang berpengaruh pada kesulitan menemukan formula kerjasama yang terbaik.

Ditambahkannya, bagaimanapun sulitnya menjalin kemitraan, perlu terus didorong terwujudnya ‘bisnis dengan hati’ tersebut. Pendorong perlunya efisiensi melalui kemitraan di industri Alas Kaki dilandasi adanya fenomena global dengan munculnya produk massal dengan harga minimum. Sehingga kemitraan menjadi alternatif setelah efisiensi secara individu sulit dilakukan. Fenomena global telah mengarahkan pada pemakaian resources secara bersama untuk mendapatkan tingkat efisiensi yang lebih besar, dan tren adanya klaster industri sebagai wujud keinginan mendapatkan efisiensi yang lebih besar.Maksum