Magetan- Salah satu upaya dalam mengatasi terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global di Indonesia adalah dengan memperbanyak penyerapan unsur – unsur gas berbahaya, hal tersebut dilakukan dengan memperbanyak penanaman Pohon dan Tanaman. Hal itu diungkapkan Sunarto, Kepala Bagian Rehabilitasi Hutan, Dinas Kehutanan Kabupaten Magetan saat memberikan paparan data dalam sosialisasi Program Nasional Pemulihan dan penanaman Pohan dan tanaman di area lahan Kritis di aula PPI, jalan Jaksa Agung Suprapto, Magetan.
Dari data Ditjen BPDASPS tahun 2011, disebutkan, lahan kritis di Indonesia sekitar 27,2 Juta hektar lahan, sedangkan di Kabupaten Magetan sendiri lahan kritis masih ada 14, 7 hektar lahan. melalui program pengayaan tanaman dan pemeliharaan lahan Nasional, sedikit demi sedikit lahan Kritis tersebut saat ini sudah kembali Normal.
“ Program ini dimulai pada tahun 2011 lalu dengan menanam di area 5.000 hektar , saat ini masih 14,1 ribu hektar, dan tahun ini akan menanam di area 500 Hektar lahan Kritis, dengan rincian 250 hektar untuk pemulihan, dan 250 hektar lagi untuk penanaman. target kami lahan kritis yang ada di magetan harus kembali hijau” ungkap Narto.(24/5/13)
Sosialisasi pemulihan dan penanaman Lahan Kritis tersebut di ikuti oleh 80 kelompok tani, yang ada di 9 Kecamatan di magetan, ke 80 kelompok tani ini merupakan kelompok tani yang wilayahnya masuk dalam kategori lahan Kritis paling besar. Kelompok tani tersebut nantinya akan diberikan program untuk menghijaukan kembali area lahan Kritisnya.
Narto menambahkan, untuk Jenis tanaman yang akan di tanam, masing masing wilayah dengan dibantu petugas PPL lapangan dari Hutbun akan membantu mengklasifikasi menurut tekstur Geografis wilayah.
“ dengan dibantu Petugas dari PPL lapangan, akan bersama sama mengklasifikasi jenis tanaman apa yang cocok dan cepat berkembang di masing- masing wilayah mereka, biasanya rata- rata berjenis antara Jenis jati, jabon, dan Mahoney, jenis sengon juga ada di wilayah magetan barat” tambahnya.Maksum