Trenggalek- Uji Kompetensi Awal (UKA) calon guru  bersertifikasi di Kabupaten Trenggalek bakal diikuti oleh 1.465 peserta mulai pengajar tingkat TK hingga SMA/sederajat.

Kepala Bidang ketenagaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Trenggalek, Surjono, Kamis mengatakan, seluruh peserta terdiri berbagai latar pendidikan yang bermacam-macam.

“Rinciannya, yang berijasah S2 ada 22 peserta, kemudian S1 1029, D4 18, D3 17, D2 177,selanjutnya untuk lulusan D1 empat, SMA 190 dan SMP empat guru, seluruhnya akan mengikuti UKA mulai tanggal 27 Mei sampai dengan 8 Juni 2013,” katanya. 16/5

Sedangkan untuk tempat penyelenggaraan ujian, dinas pendidikan setempat menyediakan sembilan lokasi, yaitu SMP I Trenggalek, SMP I  Durenan, SMP I Karangan, SMA I Trenggalek, SMA II Trenggalek, SMA I Durenan, SMA I Karangan, SMK I Pogalan dan SMK Islam Durenan,” ungkapya.

Penempatan lokasi UKA tersebut sengaja dipilah-pilah sesuai tempat tinggal masing-masing peserta, hal itu dilakukan untuk memperlancar jalannya ujian.

“Misalkan kalau yang rumahnya di Watulimo, maka ujiannya di Durenan, demikian juga kalau rumahnya di Panggul tempat ujiannya di wilayah Karangan. Tujuan kami hanya satu agar para guru ini lebih mudah untuk menjangkau,” ujarnya.

Surjono menambahkan, materi uji kompetensi calon guru bersertifikasi tersebut akan disesuaikan dengan mata pelajaran yang dipegang masing-masing guru.

Kisi-kisi mengenai materi yang diujikan tersebut telah diterbitkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) melalui website resminya.

Masih menurut Surjono, para peserta yang nantinya dinyatakan lulus dalam uji kompetensi awal tidak serta merta berstatus  guru bersertifikasi, mengingat masih ada ujian lanjutan.

“Setelah lulus UKA, para guru ini akan mengikuti PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru), untuk wilayah Trenggalek PLPG akan dilaksanakan di Universitas Negeri Malang (UM). Setelah itu lulus baru menjadi guru bersertifikasi,” imbuhnya.

Sementara itu disinggung mengenai peserta yang belum memiliki ijasah sarjana, menurutnya tetap bisa mengikuti uji kompetensi, dengan catatan harus menyelesaikan pendidikan sarjana maksimal tahun 2015.

“Kalau yang usianya sudah tua atau lebih dari 50 tahun dengan masa pengabdian lebih dari 20 tahun akan ada kebijakan khusus, karena mereka akan sulit untuk menempuh sarjana,” kata Surjono. Dimas