PACITAN – Bencana musiman tanah longsor yang terjadi hampir tiap musim hujan kembali mengancam Kabupaten Pacitan. Pada awal bulan Februari 2016 ini, setidaknya tiga peristiwa tanah longsor terjadi di beberapa titik di Pacitan.
Bencana tanah longsor pertama di awal bulan ini menimpa rumah Painem (62), warga RT/RW 01/XIX, Dusun Pagotan, Desa Punung, Kecamatan Punung pada Selasa (2/2/2016) sekitar pukul 09.30 WIB.
Longsor tersebut terjadi akibat hujan yang terjadi selama semalam lebih dan mengakibatkan rumah bagian depan mengalami kerusakan. Meski tidak ada korban, namun sejumlah perabotan rumah tangga juga mengalami kerusakan, dengan total kerugian material (kermat) mencapai Rp 10 juta.
Sehari berselang, bencana tanah longsor juga terjadi pada Rabu (3/2/2016) sekitar pukul 00.15 WIB dan menimpa rumah Warti (60), warga RT/RW 5/X Dusun Tanggung Desa Bubakan, Kecamatan Tulakan. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut, hanya terjadi sejumlah kerusakan dengan total kerugian materi Rp 5 juta.
Di hari yang sama, longsor juga menimpa rumah Tugono dan Edi Sutanto, warga RT/RW 01/V Dusun Kebuh, Desa Wonokarto, Kecamatan Ngadirojo. Material longsor yang berupa tanah liat merusak dan membuat bagian belakang rumah kedua warga tersebut jebol. Akibatnya, terjadi kerusakan dengan total kerugian masing-masing Rp 5 juta.
Dengan intensitas hujan yang masih tinggi, bencana tanah longsor dan banjir menjadi salah satu bencana di Pacitan yang wajib diwaspadai.
Sebagai informasi, menurut Mulyono R Prabowo, Kepala Pusat Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa di awal Februari 2016 ini sebagian wilayah Indonesia sedang dalam masa puncak musim hujan. Kondisi atmosfer juga menunjukkan berbagai fenomena yang mendukung pembentukan awan hujan yang lebih intensif dalam beberapa waktu kedepan. Ini ditandai dengan kondisi Monsoon Asia yang intensif disertai kondisi seruakan dingin (cold surge) yang terindikasi menguat.
“Bersamaan juga dengan fase basah dari fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang memasuki wilayah maritim kontinen (Indonesia). Selain itu daerah pertemuan massa udara terpantau terbentuk di sekitar Jawa hingga NTT,” jelasnya.
Diperkirakan seminggu kedepan potensi hujan akan semakin meningkat khususnya di Jawa hingga Nusa Tenggara. Adanya daerah tekanan rendah di utara Australia memberikan pengaruh tidak langsung dimana di Indonesia awan hujan akan semakin banyak terbentuk.
Kondisi tersebut, kata Prabowo, mengakibatkan munculnya hujan lebat yang akan dominan terjadi khususnya di wilayah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara. Seiring dengan hal tersebut diperkirakan potensi angin kencang, petir dan hujan es yang akan terjadi di beberapa wilayah.
“Kami menghimbau kepada masyarakat agar mewaspadai peluang cuaca ekstrem terutama bagi wilayah yang rawan terdampak pada kejadian banjir, tanah longsor, pohon tumbang, banjir bandang didaerah dataran tinggi serta fenomena lainnya yang bersifat merusak,” katanya.
Prabowo juga menghimbau kepada seluruh pengelola dan pengguna transportasi baik darat, laut maupun udara agar lebih siaga dan selalu memperbarui informasi cuaca terkini melalui BMKG setempat dan tidak memaksakan ketika kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi berpeluang terjadi di sepanjang jalur perjalanan. (frend)