Pacitan- Para pewarta berita diharapkan bukan hanya pintar menulis berita, namun mereka juga harus bisa mengemban dan menjunjung tinggi kode etik sebagai seorang profesional. Pernyataan tersebut sempat dilontarkan Bambang Mahendra, Kepala Bidang Kelautan Dinas Kelautan Dan Perikanan Pemkab Pacitan.  (13/5).
Bambang mengatakan, euforia kebebasan pers terkadang membuat seorang jurnalis  “lupa” akan fitrahnya. Fenomena semacam ini, tentu akan berdampak terhadap karya jurnalistiknya. Mantan wartawan sebuah media cetak ternama di Pulau Bali ini mengungkapkan, seiring semangat reformasi, eksistensi seorang wartawan lebih dimaknai sebagai profesi yang kebal dari hukum. “Hal inilah yang terkadang membuat seorang jurnalis lupa daratan. Sebab mereka menganggap dirinya tak bisa tersentuh hukum. Padahal sejatinya tidak seperti itu” ujarnya.
Bambang menyebut, kebal hukum dimaksud bukan pada individu seorang insan pers. Namun karya jurnalistiknya yang bisa dikatakan sulit dijerat dengan pasal-pasal KUHP. “Kalau individunya tidak bisa kebal hukum. Azaz persamaan dimata hukum, tidak membedakan profesi apapun” bebernya.
Lebih lanjut dia menegaskan, karya jurnalistik diharapkan lebih menekankan pada sisi edukatifnya kepada pembaca. Meski berita kejadian dan opini tidak bisa ditinggalkan. “Setidaknya muatan etika, kesantunan dan dampak-dampak lain harus menjadi pertimbangan seorang wartawan sebelum menulis berita. Hal ini diharapkan untuk menghindari terjadinya konflik sebagai imbas pemberitaan” tandasnya.Yuniardi Sutondo