Trenggalek – Sebuah Puskesmas Pembantu di Dusun Balang, Desa Senden, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mangkrak dan nyaris tidak memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, karena hanya buka satu bulan sekali pada saat posyandu.
 
Menurut warga sekitar, mangkraknya pustu terjadi sejak sepuluh bulan terakhir. Pada hari-hari biasa, tidak ada satupun petugas kesehatan yang membeberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, seluruh ruangan pustu juga terkunci. Padahal  fasilitas kesehatan ini masih tergolong baru, karena dibangun dua tahun yang lalu. 
 
“Buka itu kalau ada posyandu balita, setelah itu tutup lagi. Kami tidak tahu penyebabnya, mengapa bisa tutup seperti ini,” kata salah seorang warga, Sunar.
 
Selain tidak memberikan pelayanan kesehatan, Pustu Balang juga terkesan tidak terurus, beberapa fasilitas, seperti kamar toilet, mainan anak serta atap gedung banyak yang rusak dan jebol. 
 
Kondisi ini cukup ironis, karena warga sekitar sangat membutuhkan layanan adanya kesehatan di puskesmas tersebut. Akibat mangkraknya puskesmas pembantu ini, warga sekitar harus melakukan pengobatan ke puskesmas induk yang berada di pusat kecamatan. “Dulu, sebelum dibangun justru ada pelayanan kesehatannya, tapi sekrang ya seperti ini,” ujar warga lain, Karuniawan. 
 
warga berharap , pemerintah kembali mengaktifkan layanan kesehatan di puskesmas pembantu, sehingga bisa mempermudah masyarakat yang ingin berobat maupun melakukan pemeriksaan kesehatan. 
 
Sementara itu dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Trenggalek, Sugito Teguh mengaku belum mengetahui secara detail terkait mangkraknya Pustu Balang, namun pihaknya menerangkan ada beberapa persoalan yang dimungkinkan sehingga tidak bisa memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal. 
 
“Pelayanan kesehatan di pustu biasanya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masyarakat, kemudian juga menyangkut ketersediaan tenaga medis,” katanya.
 
Mengingat, seluruh tenaga yang diperbantukan di pustu berasal dari puskesmas induk, sehingga kewenangan dalam melakukan pelayanan kesehatan berada di tingkat puskesmas. Akan tetapi pihaknya menjelaskan, seharusnya dalam kurun waktu satu minggu harus ada pelayanan selama dua atau tiga hari. “Nanti akan coba kami koordinasikan dengan puskesmas induknya,” katanya. (dim)