Pacitan– “Angin surga,” sepertinya terus berembus mengiringi wacana perpanjangan masa pensiun H. Mulyono, sebagai Sekkab Pacitan. Banyak pihak yang sependapat dengan bergulirnya wacana tersebut. Namun juga tak sedikit, pihak-pihak yang kontradiktif dan menginginkan agar pejabat asal Probolinggo itu segera lengser dari jabatannya sebagai top manager birokrasi di Pemkab Pacitan, setelah memasuki masa purna tugas pada Oktober nanti. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Cabang Pacitan, H. Suyatno berpendapat, dari prespektif hukum, perpanjangan masa pensiun pejabat eselon II, memang diperbolehkan hingga usia 60 tahun. Bahkan, lanjut dia, seperti di Pemprov Jatim misalnya, hampir bisa dipatikan semua pejabat jajaran eselon II diperpanjang masa pensiunnya. “Soal masa pensiun Pak Sek (Sekkab Mulyono, Red) itu kewenangan gubernur, meski hak sepenuhnya ada di bupati. Dari sisi aturan, gak ada masalah. Memang (pejabat eselon II, termasuk Sekkab) punya hak perpanjangan. Semua bergantung pejabat didaerah,” jelasnya.

Mantan Kepala Dinas Hutbun ini mengungkapkan, secara umum semua pejabat jajaran eselon II di Pemkab Pacitan dianggapnya mampu diangkat sebagai sekretaris kabupaten menggantikan posisi mantan bosnya tersebut. Hanya persoalannya, apakah mereka itu memiliki kemampuan setara atau bahkan lebih dari pejabat sebelumnya. Sebab, beber Yatno, begitu ia biasa disapa, ada tiga hal yang melekat pada diri seorang Mulyono yang mungkin tidak dimiliki pejabat lain di Pacitan. Misalnya soal kompetensi, loyalitas, dan etos kerja. Meski, tidak dia tampik, Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) tersebut juga punya satu kelemahan. Yatno menyebut, social approach’nya memang sangat kurang. “Mungkin orang akan bertanya, beliau itu punya keistimewaan seperti apa? Saya ini mantan anak buahnya, jadi sangat paham siapa Pak Mul itu. Loyalitasnya pada atasan, memang tidak diragukan lagi,” sebut mantan pejabat yang sekarang ini macong sebagai bacaleg dari PDIP tersebut.

Saat ditanya apakah setuju atau tidak seandainya H. Mulyono diperpanjang masa pensiunnya, dengan taktis Yatno buru-buru menjawab, kalau dirinya tidak akan mencampuri diluar ranahnya. “Yang jelas, jabatan sekkab itu tidak sembarangan. Selain harus bisa menjadi leader semua SKPD, juga harus bisa menjadi seorang bapak. Bagaimana harus memberikan petunjuk kedinasan ke bawahannya. Itu yang perlu dipertimbangkan,” ujarnya, diplomatis. Yuniardi Sutondo