Parang/Sidorejo – Siang itu, Bupati Magetan, Sumantri, mengibarkan bendera start di Desa Ngunut, Kecamatan Parang, Jumat (7/10). Sumantri, bersama jajaran Muspida, berjalan kaki dari Ngunut Parang hingga alun-alun Magetan dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Magetan yang ke-336. Kegiatan ini rutin diadakan setiap tanggal 12 Oktober.

 

Napak tilas Ngunut Parang – Magetan ini mengingatkan akan sebuah sejarah, ketika pusat pemerintahan Kabupaten Magetan dipindahkan ke Ngunut saat terjadinya agresi militer Belanda pada tahun 1948. Belanda menyerbu Magetan pada tanggal 19 Desember 1948. Pada tanggal 26 Oktober 1949 tentara Belanda meninggalkan Magetan, dan tanggal 1 Januari 1950 pusat pemerintahan di Magetan yang berada di pedalaman kembali ke kota.

 

Napak tilas ini diikuti oleh ribuan peserta mulai dari pegawai negeri sipil (PNS), TNI, Polri, pelajar, hingga masyarakat umum, dan menempuh jarak sekitar 15 kilometer dengan garis finish di alun-alun kota Magetan.

 

Selain napak tilas ini, berbagai acara digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan untuk memperingati hari jadi ke-336 ini, baik yang sifatnya lomba atau hiburan; seperti lomba kebersihan kantor, lomba musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) PNS antar dinas instansi, lomba PNS berprestasi, ziarah makam, bakti sosial, nonton wayang, dan lainnya.

 

Ziarah Makam Hingga Rebutan Koin Kreweng

Kamis (6/10), sehari sebelum Napak Tilas Ngunut Parang – Magetan, Bupati Magetan dan rombongannya mengadakan ziarah ke Makam Ronggo Galih Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo.

 

Warga sudah menanti kedatangan Bupati beserta rombongan di sekitar makam, menunggu pembagian koin kreweng, sebuah koin yang terbuat dari tanah liat. Meskipun koin tersebut terbuat dari tanah liat, tetapi masih mempunyai nilai rupiah. Setiap satu koin bernilai Rp. 3 ribu, dan bisa dibelanjakan aneka jajanan di area pemakaman tersebut. Nanik Sumantri, istri Bupati Magetan, membagi-bagikan koin itu kepada warga yang sudah berjubel.

 

Tradisi pembagian koin kreweng ini memang rutin dilakukan setiap tahun, bertepatan dengan Hari Jadi Magetan. Setelah mendapatkan koin, mereka langsung menuju pusat jajanan yang berada dekat area pemakaman salah satu Bupati Magetan itu.

 

Bagi-bagi koin ini merupakan rangkaian acara ziarah makam leluhur.

 

Sejarah Berdirinya Magetan

Wafatnya Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1645 merupakan sejarah surutnya kejayaan Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahannya, beliau sangat gigih melawan VOC (kompeni Belanda). Beliau digantikan oleh putranya, Sultan Amangkurat I (1645-1677). Berbeda dengan sikap ayahnya, Sultan Amangkurat I bersikap lemah dan lunak terhadap VOC.

 

Pada 1645, Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC yang isinya antara lain mengakui kedaulatan VOC di Batavia. Dengan demikian, Batavia terlepas dari ancaman Mataram, dan mulai terbukalah pintu Mataram bagi pengaruh VOC.

 

Tindakan dan kebijaksanaan Sultan Amangkurat I menimbulkan perasaan kecewa dari berbagai pihak, utamanya oposisi seperti Pangeran Giri yang berpengaruh di Pesisir Utara Pulau Jawa dan bersiap-siap untuk melepaskan diri dari Kerajaan Mataram. Pangeran Trunojoyo dari Madura melancarkan pemberontakan pada 1674, kemudian didukung oleh orang-orang Makassar.

 

Pada saat itulah, seorang kerabat Mataram yang bernama Basah Gondo Kusumo atau Basah Bibit bersama Patih Kerajaan Mataram bernama Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan pihak oposisi dan kaum pemberontak yang menentang kebijaksanaan Amangkurat I.

 

Atas tuduhan itu, Basah Gondo Kusumo dijatuhi hukuman pengasingan di Semarang di rumah kakek beliau yang bernama Basah Suryaningrat. Sedangkan Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatannya, kemudian bertapa di daerah Timur Gunung Lawu. Atas nasehat kakeknya, maka beliau berdua menyingkir ke daerah Timur Gunung Lawu.

 

Pada saat itu, Ki Buyut Suro, yang bergelar Ki Ageng Getas, yang sedang menjalankan perintah Ki Ageng Mageti, yakni cikal bakal daerah tersebut, untuk melaksanakan babat hutan. Untuk mendapatkan sebidang tanah sebagai tempat bermukim, maka Basah Suryaningrat dan Basah Gondo Kusumo diantar oleh Ki Buyut Suro atau Ki Ageng Getas untuk menghadap Ki Ageng Mageti di tempat kediamanannya yaitu di Dukuh Gandong Kidul (Gadong Selatan), tepatnya sekitar alun-alun Kota Magetan.

 

Melalui perdebatan yang sengit antara Ki Ageng Mageti dengan Basah Suryaningrat, akhirnya Ki Ageng Mageti mengetahui benar-benar bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat Keraton Mataram, tetapi seorang sesepuh dari Kerajaan Mataram. Sehingga, beliau dipersilakan menempati sebidang tanah di Utara Gandong, tepatnya Desa Tambran, Magetan. Akhirnya, Ki Ageng Mageti mempersembahkan semua tanah miliknya kepada Basah Suryaningrat sebagai tanda bukti kesetiaannya pada Mataram.

 

Setelah Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan dari Ki Ageng Mageti lalu beliau mewisuda cucunya yang bernama Basah Gondo Kusumo menjadi penguasa di tempat baru itu dengan gelar Yoso Negoro yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yoso Negoro yakni pada tanggal 12 Oktober 1675 Masehi. 

 

Tempat atau wilayah baru tersebut dinamakan Magetan berdasarkan pertimbangan bahwa peristiwa yang mewarnai terjadinya Kabupaten Magetan adalah pemberian Ki Ageng Mageti, yaitu nama ‘Mageti’ yang mengalami perubahan ejaan menjadi Magetian, akhirnya Magetan.

 

Hari jadi atau berdirinya Kabupaten Magetan adalah saat diwisudanya Basah Gondo Kusumo oleh kakeknya Basah Suryaningrat menjadi Bupati Magetan yang bergelar Yosonegoro, yakni pada tanggal 12 Oktober 1675.

 

Hari jadi Kabupaten Magetan diberi peringatan dengan Suryo Sengkolo: “Manunggaling Roso Suko Ambangun”, yang mempunyai makna atau harapan bahwa adanya kesatuan dan persatuan masyarakat Kabupaten Magetan yang kokoh dan bulat, semata-mata untuk tekad membangun dan menciptakan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

(Fahriansyah)