fraksidemokrat.org—Jakarta. Rileks, diwarnai canda tawa Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono menyampaikan sejumlah hal dalam silaturahmi dengan puluhan wartawan di Ruang Rapat FPD, Gedung Nusantara I Lt 9.  ‘’Ini bukan undangan untuk bikin berita, santai saja ya,’’  kata Ibas, demikian Edhie Baskoro akrab disapa. Silaturahmi, juga dihadiri Sekretaris Fraksi Didik Mukrianto, sejumlah pimpinan dan anggota seperti Dede Yusuf, Azzam Azman Natawijana, Herman Khaeron, Mulyadi, Teuku Riefky Harsya dan Samuel Wattimena, Rabu (20/01/2016).

 

Ibas menyebut silaturahmi ini sebagai penguatan hubungan, sekaligus membuka dengan baik tahun 2016 yang penuh tantangan bagi anggota dewan, partai maupun media. ‘’Kita selalu berharap, ini akan menjadi tahun kebangkitan bagi semua, artinya menjadi lebih dan lebih baik lagi.’’

 

Secara umum, Ketua FPD menyebutkan bahwa tahun 2015 lalu, Demokrat sudah menunjukkan dirinya sebagai Partai dan Fraksi penyeimbang yang berusaha kritis terhadap kebijakan apapun ketika dirasa kurang baik. Tetapi juga tetap mensupport pembangunan dan program yang baik, ‘’…dan di parlemen, kita juga berusaha menjaga harmoni antar fraksi,’’ tutur Ibas.

 

‘’Teman-teman, era ‘Mama Minta Pulsa’’, ‘’Papa Minta  Saham” sudah berlalu. Sekarang era-nya ‘Kakak Minta Damai’. Mari kita jaga ketentraman dan kedamaian antar masyarakat, antar komponen,’’ kata Ibas, setengah berseloroh.

 

Ibas juga mengapresiasi penyelenggaraan Pemilukada Serentak yang berjalan damai seraya kembali mengimbau agar demokrasi dijaga. Yang kalah, menerima dan mendorong konstuennya untuk mendukung para pemimpin daerah terpilih. Sebaliknya, yang terpilih menjalankan amanah. ‘’Menang kalah biasa. Terpenting amanah dan demokrasi tetap dijaga.’’

 

Kepada media, Ibas meminta agar tetap mengawal dengan kritis pemerintah maupun dewan. Termasuk tentu, FPD. Di era transparansi, kata Ibas, pengawasan media sangat penting. Tentu dengan jujur dan obyektif.

 

‘’Silakan dikawal dan diawasi. Banyak proyeksi kerja yang merupakan cermin konsistensi kita untuk ikut melakukan perubahan ke arah lebih baik. Silakan dicermati. Tahun 2016 ini misalnya, kita juga akan tetap berdiri di depan dalam pemberantasan narkoba, mendorong hukum ditegakkan,’’ kata Ibas.

Ditambahkan, kegaduhan politik yang sangat terasa di tahun 2015 harus diakhiri. Konsentrasi pemerintah dan semua pihak, sebaiknya difokuskan pada hal-hal yang produktif. Perbikan perekonomian misalnya. Pemerintah harus terus didorong melakukan perbaikan, peningkatan ekonomi, kerjasama dengan berbagai Negara, menyemarakkan iklim investasi dan membuka ruang seluasnya kepada ekonomi kreatif yang dimotori anak muda. ‘’Jangan lupa buka seluasnya peluang tumbuh kembang usaha kecil dan menengah.’’

 

‘’Saya juga berharap, 2016 mudah-mudahan tidak penuh dengan kegaduhan dan fitnah. Ini bukan klarifikasi, tapi saya ingin katakan bahwa kalau kita mau jadi manusia yang bena, jangan suka menyampaikan sesuatu di luar koridor. Banyak yang bilang, kok Ibas masih aja difitnah. Awal tahun, bukannya buka dengan doa baik, malah fitnah. Itu kejam. Apalagi kalau itu jadi berita tanpa konfirmasi,’’ terang politisi yang aktif menggelar berbagai kegiatan di dapilnya, Jawa Timur VII meliputi Pacitan, Ngawi, Trenggalek, dan Magetan. ‘’Mari kita hindari isu, gossip,’’ tambahnya.

‘’Saya ini bukan pangeran. Ini kan Negara demokrasi. Kalau Ibas seorang pangeran, bisa tersinggung nanti pangeran yang di Yogya dan Solo,’’ kata Ibas dengan senyum. Dia juga menegaskan, tidak ada arahan baik dari dirinya maupun Partai Demokrat kepada kader untuk bermain dalam proyek-proyek yang berpotensi korupsi.

 

‘’Kita sudah dan akan tunjukkan itu. Silakan diawasi, teman-teman,’’ tegasnya.

Terkait keamanan nasional, Ibas menyinggung teror di Jl Thamrin. Menurutnya, komitmen Demokrat sejak awal tegas. Tidak mentoleransi kekerasan dalam bentuk apapun. ‘’Saya setuju jihad di jalan Allah. Tapi bukan itu caranya. Jadi bukan jihan di jalan Thamrin, ’’ kata Ibas disambut tawa para wartawan. ‘’Jihad harus dengan pemahaman yang benar, Islam itu damai. Terhadap segala bentuk gangguan keamanan, kita fight bersama, bergandeng tangan,’’ katanya.

 

Lalu bagaimana jika ini dikaitkan dengan wacana perubahan UU Terorisme dan UU Intelijen? ‘’Kita lihat usulan perubahannya seperti apa. Kalau untuk kebaikan ke depan, tidak karena dipicu oleh insiden semata, kita dukung. Kita juga mengapresiasi kerja polisi, BIN dan lembaha terkait lainnya. Terpenting sekarang, semua pihak mengawasi, waspada dan mencegah. Masyarakat jangan sungkan melapor jika ada gejala mencurigakan. Pendidik, tokoh agama, juga mengembangkan pendidikan kepada generasi muda tentang agama yang damai, hindari bibit-bibit terorisme menyebar di masyarakat,’’ tutur Ibas lagi sambil juga mengatakan bahwa Demokrat tidak apriori terhadap perubahan, termasuk amandemen UU 45. Tapi jangan sampai, ide amandemen berada di balik agenda tertentu.

 

Selebihnya, Ibas memastikan bahwa FPD akan konsisten pada tugas-tugas di dewan. Ia berharap, secara keseluruhan, dewan semakin produktif dan berkontribusi secara nyata kepada kehidupan berbangsa dan bernegara. ‘’Apapun, kita awasi. Untuk kebaikan bersama, untuk kebaikan masyarakat,’’ katanya. (ng/media-fpd)